Ini adalah diantara petunjuk Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam ketika kaum Muslimin memerangi orang-orang musyrik ~dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Hal ini harus diketahui seluruh umat Islam, terlebih lagi para panglima perang karena sesungguhnya ini adalah wasiat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada para panglima perangnya.

 

Jika Rasulullah  shalallahu ‘alaihi wassalam mengangkat seorang panglima untuk berperang, beliau berpesan kepada panglima itu untuk melakukan hal ini secara berurut:

 

1. Seru mereka kepada Islam. Ini yang pertama harus dilakukan.

 

2. Membayar jizyah/upeti. Ini jika mereka menolak seruan yang pertama.

 

3. Perangi, dengan memohon pertolongan Allah terlebih dahulu, ini jika mereka pun menolak opsi 1 dan 2.

 

JIKA MEREKA MASUK ISLAM, TERDAPAT PULA BEBERAPA OPSI:

 

1. Seru mereka untuk PINDAH DARI KAMPUNG HALAMAN  MEREKA menuju negri kaum MUHAJIRIN. Analoginya, pindah dari negri mereka yang kafir, ke negri Islam. Kalau mereka melakukan hal ini, maka mereka akan memperoleh apa yang diperoleh kaum Muhajirin atau kaum Muslimin, yaitu ghanimah/pampasan perang setiap kali kaum Muslimin berperang. Sebaliknya, mereka pun memiliki kewajiban yang sama dengan kaum Muhajirin.

2. Kalau mereka masuk Islam namun MENOLAK HIJRAH? Maka kata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, mereka menjadi seperti orang-orang BADUI KAUM MUSLIMIN. Bagi mereka berlaku semua hukum Allah yang juga berlaku bagi orang-orang Mukmin lainnya. Namun mereka TIDAK MENDAPAT bagian dari Fa’i dan Ghanimah. KECUALI kalau mereka BERJIHAD BERSAMA kaum Muslimin.

 

Ini dijelaskan dalam ayat:

 

“…orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka…” (Q.S: al-Anfaal: 72) 

 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menggunakan hadits yang akan kita ketengahkan ini sebagai penafsir ayat di atas. Dan beliau berkata, “penjelasan ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas”.

 

Hadist yang dimaksud:

 

Musnad Ahmad 21952:

 

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdur Rahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya berkata:

 

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat komandan pasukan atau mengutus ekspedisi pasukan, secara khusus beliau berwasiat kepada panglima pasukan untuk bertakwa kepada Allah dan beliau berwasiat kepada kaum muslimin yang bersamanya agar menegakkan kebaikan-kebaikan, lantas beliau bersabda:

 

“Berperanglah dengan nama Allah di jalan Allah, perangilah orang yang kafir terhadap Allah, berperanglah dan janganlah berkhianat, jangan memutilasi dan jangan membunuh anak kecil, bila kau bertemu musuhmu dari kalangan orang-orang musyrik, serulah mereka pada satu dari tiga hal, mana saja diantaranya yang mereka terima maka terimalah dari mereka; serulah mereka menuju Islam, bila mereka menerimamu maka terimalah dari mereka kemudian ajaklah mereka untuk pindah dari tempat mereka ke tempat kaum muhajirin. Beritahukan kepada mereka bila mereka mengerjakannya, bahwa mereka mendapatkan hak dan kewajiban yang sama seperti kaum muhajirin lainnya, bila mereka enggan dan lebih memilih tempat mereka, beritahukan pada mereka bahwa mereka seperti kaum badui kalangan muslimin, mereka berkewajiban melaksanakan hukum Allah yang berlaku bagi kaum mu`minin dan mereka tidak mendapatkan fai` dan ghanimah sama sekai kecuali bila mereka berjihad bersama kaum muslimin, bila mereka enggan maka serulah mereka untuk membayar jizyah, bila mereka menerima maka terimalah dari mereka dan tahanlah dirimu (untuk menyerang mereka), bila mereka enggan maka memintalah pertolongan pada Allah kemudian perangilah mereka. Bila kau mengepung penghuni benteng lalu mereka berkeinginan agar engkau membuat jaminan Allah dan nabi-Nya untuk mereka, jangan kalian lakukan tapi buatlah saja jaminanmu, jaminan ayahmu dan jaminan teman-temanmu untuk mereka, karena bila kalian melanggar jaminanmu dan jaminan ayah-ayahmu itu lebih ringan dari pada kalian melanggar jaminan Allah dan rasulNya, bila kau mengepung penghuni benteng lalu mereka menginginkanmu agar engkau memutuskan hukum Allah atas mereka, jangan kau turuti, tapi berilah mereka keputusan dengan hukummu, karena kau tidak tahu apakah kau sesuai dengan hukum Allah tentang mereka ataukah tidak.” ‘Abdur Rahman berkata: demikian atau sepertinya.”

 

 

صحيح مسلم ٤٥٥٠: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ وَاللَّفْظُ لِعَمْرٍو قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ الْآخَرُونَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو عَنْ الْحَسَنِ بْنِ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي رَافِعٍ وَهُوَ كَاتِبُ عَلِيٍّ قَالَ
سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَهُوَ يَقُولُ بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَالزُّبَيْرَ وَالْمِقْدَادَ فَقَالَ ائْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ فَإِنَّ بِهَا ظَعِينَةً مَعَهَا كِتَابٌ فَخُذُوهُ مِنْهَا فَانْطَلَقْنَا تَعَادَى بِنَا خَيْلُنَا فَإِذَا نَحْنُ بِالْمَرْأَةِ فَقُلْنَا أَخْرِجِي الْكِتَابَ فَقَالَتْ مَا مَعِي كِتَابٌ فَقُلْنَا لَتُخْرِجِنَّ الْكِتَابَ أَوْ لَتُلْقِيَنَّ الثِّيَابَ فَأَخْرَجَتْهُ مِنْ عِقَاصِهَا فَأَتَيْنَا بِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا فِيهِ مِنْ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ إِلَى نَاسٍ مِنْ الْمُشْرِكِينَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ يُخْبِرُهُمْ بِبَعْضِ أَمْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا حَاطِبُ مَا هَذَا قَالَ لَا تَعْجَلْ عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ امْرَأً مُلْصَقًا فِي قُرَيْشٍ قَالَ سُفْيَانُ كَانَ حَلِيفًا لَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ مِنْ أَنْفُسِهَا أَكَانَ مِمَّنْ كَانَ مَعَكَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ لَهُمْ قَرَابَاتٌ يَحْمُونَ بِهَا أَهْلِيهِمْ فَأَحْبَبْتُ إِذْ فَاتَنِي ذَلِكَ مِنْ النَّسَبِ فِيهِمْ أَنْ أَتَّخِذَ فِيهِمْ يَدًا يَحْمُونَ بِهَا قَرَابَتِي وَلَمْ أَفْعَلْهُ كُفْرًا وَلَا ارْتِدَادًا عَنْ دِينِي وَلَا رِضًا بِالْكُفْرِ بَعْدَ الْإِسْلَامِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ فَقَالَ عُمَرُ دَعْنِي يَا رَسُولَ اللَّهِ أَضْرِبْ عُنُقَ هَذَا الْمُنَافِقِ فَقَالَ إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ }
وَلَيْسَ فِي حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ وَزُهَيْرٍ ذِكْرُ الْآيَةِ وَجَعَلَهَا إِسْحَقُ فِي رِوَايَتِهِ مِنْ تِلَاوَةِ سُفْيَانَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ ح و حَدَّثَنَا رِفَاعَةُ بْنُ الْهَيْثَمِ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدٌ يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ اللَّهِ كُلُّهُمْ عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا مَرْثَدٍ الْغَنَوِيَّ وَالزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ وَكُلُّنَا فَارِسٌ فَقَالَ انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ فَإِنَّ بِهَا امْرَأَةً مِنْ الْمُشْرِكِينَ مَعَهَا كِتَابٌ مِنْ حَاطِبٍ إِلَى الْمُشْرِكِينَ فَذَكَرَ بِمَعْنَى حَدِيثِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ عَنْ عَلِيٍّ

 

 

Fa’i: harta rampasan yang diperoleh dari musuh tanpa adanya peperangan. Cara pembagiannya juga berbeda dengan ghanimah (dijelaskan di surat al-Hasyr: 7).

 

Ghanimah: harta rampasan perang yang diperoleh dari musuh setelah terjadi peperangan/pertempuran. Cara pembagiannya dijelaskan di surat al-Anfaal: 1.

 

Diantara pesan lainnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dalam berperang:

 

“Berperanglah dengan nama Allah di jalan Allah, perangilah orang yang kafir terhadap Allah, janganlah berkhianat, jangan memutilasi dan jangan membunuh anak kecil”

 

Diantara faedah lain dari hadits ini antara lain:

 

  1. ORANG ISLAM YANG TINGGAL DI NEGRI  KAFIR DIHUKUMI SAMA DENGAN ORANG BADUI DARI KALANGAN KAUM MUSLIMIN.
  2. Adanya keutaman untuk tinggal di negri Muslim. Kewajiban-kewajiban syari’at sulit untuk dilaksanakan secara sempurna di negri kufar.
  3. Jihad fi sabilillah dan perang, tak bisa dipisahkan dari Islam. Bahkan merupakan bagian yang sangat penting dalam Islam.
  4. Fa’i dan ghanimah memiliki kedudukan penting, bahkan dapat membuat kaum Muslimin menjadi makmur sebagaimana yang telah dicontohkan oleh generasi awal Islam. Sehingga fa’i dan ghanimah pun menjadi salah satu tolok ukur.
  5. Tuntunan bagi pengepungan sebuah benteng.

 

Allahu ta’ala a’lam.

(Visited 520 times, 1 visits today)

Related posts:

Panduan Jual Beli dlm Islam: Haramnya Jual Beli Khamr, Bangkai, Babi, Patung dan Produk-produk Turun...
صحيح البخاري ٢٠٨٢: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ ع...
Ketaatan kepada Rasulullah Tidak Bisa Dipisahkan dari Ketaatan kepada Allah (as-Sunnah adalah Hujjah...
Setelah kita mengetahui makna dan pengertian as-Sunnah di dalam Islam, adalah sangat penting selan...
Fungsi-fungsi as-Sunnah (Hadits) dalam Kaitannya dengan al-Qur'an
Sesungguhnya Islam tidak akan lengkap tanpa as-Sunnah. Kami telah mengungkapkan begitu banyak dalil ...
Jika Kita Sering Ditimpa Kesusahan Hidup...
Barangkali ada diantara kita yang SERING mengalami kesusahan. Aktivitas-aktivitasnya kerap menemui j...