Kita lihat, pengembangan Islam melalui beberapa fase atau tahap. Pertama, fase awal di Makkah dimana kaum Muslimin menghadapi siksaan dan penghinaan berat hingga banyak yang terbunuh. Fase kedua, fase hijrah, pemerintahan Islam. Di sini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mulai membangun Negara Islam. Dan serangkaian perang pun mulai terjadi, namun fokus pada memerangi kaum Arab Jahiliyah saja. Semua perang dilakukan dari Madinah sebagai markas Islam.

 

Setelah orang Arab jahiliyah memeluk Islam (dengan sukarela karena melihat kejayaan dan kewibaan Islam), Makkah ditaklukan dan bahkan  jazirah Arab memeluk Islam, Allah kemudian memerintahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam untuk mulai memerangi Ahli Kitab.  Mulailah Islam bergerak ke barat dan ke timur, menaklukan Romawi dan Persia. Ini semua dilakukan dibawah tuntunan dan perintah Allah SWT.

 

Apakah Allah SWT tidak mampu untuk memenangkan kaum Muslimin bahkan Rasul-Nya dari awal? Dari waktu di Makkah?? Sungguh, Ia Maha Mampu. Namun Allah hendak memberikan hikmah dan pelajaran kepada kita semua yang hidup kemudian setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam wafat:

 

hendaklah kita umat Islam memperhatikan siasat dan strategi dalam berjuang. Jika kita masih lemah, janganlah kita menghadapi musuh dengan frontal. Ada tahap-tahapnya. Menghadapi musuh yang jauh lebih kuat dari kita tanpa strategi dan siasat yang tepat sama saja dengan bunuh diri. Sedangkan Islam melarang kita membunuh diri kita, membinasakan diri kita sendiri.

 

Namun ironisnya, zaman ini kita sering menyaksikan bagaimana para pemimpin negri kaum Muslimin menjerumuskan rakyatnya ke dalam lembah bencana dan kehancuran TANPA STRATEGI yang matang. Hanya mengutamakan berkoar-koar, mengeluarkan ancaman-ancaman kurang makna seperti akan menyerang Israel, menghapus negara Israel dari peta dunia, melawan Amerika, dst, kemudian muncul dukungan emosional sesaat dari berbagai belahan negri Muslim, lalu berakhirlah episode itu, bagai sinetron yang masa tayangnya hanya 3 bulan. Habislah negri Muslim itu dibebeskan musuh sampai ke perut bumi. Ini adalah sebuah bencana dahsyat dan kebodohan.

 

Janganlah kita bermurah-murah dengan darah kaum Muslimin. Pada asalnya darah seorang muslim haram untuk ditumpahkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

“Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.”

(Shahîh. HR an-Nasâ`i (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi no. 1395)

 

Karenanya, jangan bermurah-murah dengan darah kaum Muslimin.

 

Apa yang terjadi di masa awal perkembangan Islam di Makkah (ditindas), hijrah ke Madinah, memerangi orang musyrik dari Madinah, lalu akhirnya kembali ke Makkah dengan kemenangan, lalu menguasai seluruh Hijaz dan bahkan menaklukan Persia dan Romawi, menjadi pelajaran berharga bagi kita umat Islam setelahnya. Menjadi panduan bagi kita dalam berjuang agar selalu memperhatikan strategi dan siasat jangka panjang.

 

at-Taubah: 14

at-Taubah: 14

 

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (Q.S: at-Taubah: 14)

 

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan:

 

“Terbunuhnya orang-orang kafir oleh orang-orang beriman LEBIH MENGHINAKAN orang-orang kafir dan LEBIH MELEGAKAN DADA ORANG-ORANG BERIMAN.” Maksudnya lebih menghinakan daripada jika mereka mati karena adzab Allah seperti kaum-kaum terdahulu. Juga menambah kepercayaan diri orang-orang beriman.

Inilah diantara faedahnya. Jika kita lihat umat-umat terdahulu, jihad belum ada. Para pembangkang dan pendusta nabi dan rasul dihancurkan oleh adzab  Allah SWT, bukan melalui tangan-tangan orang beriman. Jihad baru diperintahkan pada masa Musa as, setelah Fir’aun Allah hancurkan.

 

Hikmah lain disyariatkannya jihad fii sabilillah:

 

“…apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka”. (Q.S: Muhammad: 4).

 

Faedah lain dengan adanya jihad, Allah hendak menguji keimanan dan ketakwaan kita, serta memberi kesempatan kepada kita untuk menjadi syuhada.

 

Karenanya, ada sebuah hadits yang sangat mulia dan penting, namun sudah jarang kita dengar:

 

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 

“Jika kalian berjual beli secara cara ‘inah, mengikuti ekor sapi, ridha dengan bercocok tanam dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalianAllah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.”

 

Abu Daud berkata, “Ini adalah riwayat Ja’far, dan hadits ini adalah lafadznya.”  (Syaikh al-Albani: shahih)

[‘inah: jual beli yang mengandung unsur riba]

 

Hadits ini menunjukkan betapa mulia dan pentingnya jihad. Namun, harus diingat, kebanyakan ‘jihad’ yang dilakukan oleh orang-orang sekarang bukanlah jihad yang benar. Yang terjadi adalah ‘kekacauan’ dan semakin terpuruknya Islam karena ulah sebagian orang Islam sendiri yang gegabah, kurang berstrategi dan lebih mementingkan kepentingan sesaat dan jangka pendek ketimbang kemenangan dan kejayaan Islam secara keseluruhan.

 

Dan inilah yang menjadi tujuan artikel ini, yaitu agar kita mengambil pelajaran dari perkembangan Islam pada masa awal. Sesungguhnya Allah Maha Mampu memenangkan kaum Muslimin di Makkah di awal dakwah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Allah Maha Mampu mengadzab kaum musyrikin Quraisy di Makkah waktu itu. Tapi Allah tidak melakukannya, karena ada hikmah yang besar agar kita mengambil pelajaran darinya. Agar kita memperhatikan grand strategi jangka panjang, jangan menyerang musuh dengan frontal ketika kita lemah, dan agar kita MENDAHULUKAN DAKWAH TAUHID DI ATAS SEGALANYA sebelum dapat meraih kejayaan dan kemenangan, dst.

 

Dan janganlah kita menumpahkan darah kaum Muslimin dengan menganggapnya murah (baca: asal-asalan, tanpa strategi, modal nekat dsb).

 

“Dosa membunuh seorang mukmin lebih besar daripada hancurnya dunia.”

(Shahîh. HR an-Nasâ`i (VII/83), dari Buraidah. Dishahîhkan oleh al-Albâni dalam Shahîh Sunan an-Nasâ`i dan lihat Ghâyatul-Maram fî Takhrîj Ahâdîtsil-Halâl wal-Harâm no. 439)

“… Sesungguhnya darah kalian, harta benda kalian, kehormatan kalian, haram atas kalian seperti terlarangnya di hari ini, bulan ini dan negeri in. Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir…” 

HR al-Bukhâri (no. 67, 105, 1741) dan Muslim (no. 1679 (30)), dari Sahabat Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu)

“Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.”

(Shahîh. HR an-Nasâ`i (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi no. 1395)

(Fadil Aziz)

 

Artikel terkait:

Perang Badar Terjadi Tidak Secara Sengaja…

3 Pilihan Bagi Orang Musyrik yg Diperangi oleh Kaum Muslimin ~Wasiat Nabi Kepada Para Panglima Perang

Larangan-larangan Umar Kepada Ahli Dzimmah (Orang Non-Muslim yang Tinggal di Negri Muslim)

Berpegang Teguh Kepada al-Qur’an dan as-sunnah, 2 Pegangan Dasar Umat Islam

 

 

(Visited 465 times, 1 visits today)

Related posts: