al-Abbas ra adalah sahabat, sekaligus paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Beliau juga merupakan AYAH dari seorang sahabat besar, seorang ulama dari kalangan para sahabat. Seorang jagoan tafsir, yang mana kita tak akan dapat menghindar darinya jika mempelajari tafsir al-Qur’an, yaitu Ibnu Abbas. Al-Abbas adalah AYAH dari Ibnu Abbas.

 

Al-Abbas termasuk tawanan Perang Badar yang ditawan kaum Muslimin.

 

Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu Abbas bahwa ia (al-Abbas) menebus dirinya sendiri dengan 40 uqiyah emas (1 uqiyah emas = 29,75 gram emas). Kemudian ketika dibacakan ayat ini (al-Anfaal: 70) al-Abbas berkata:

 

“Allah telah MEMBERIKU 2 hal yang LEBIH AKU SUKAI DARIPADA DUNIA, yaitu aku DITAWAN PADA PERANG BADAR, lalu aku menebus diriku dengan 40 uqiyah emas. Kemudian Allah memberiku 40 budak. Dan sesungguhnya aku mengharapkan ampunan yang telah dijanjikan Allah kepada kami.”

 

Dengan sebab ditawan itu, al-Abbas bin ‘Abdul Muththalib menjadi Islam. Paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ini pun menjadi sahabat dekat nabi. Dan ia mensyukuri nikmat ditawan itu. “Lebih baik dari dunia dan seisinya,” demikian kata beliau. Subhanallah, beliau begitu mensyukuri nikmat ditawan. Sedangkan ayat yang dimaksud adalah:

 

al-Anfal: 70

” al-Anfal: 70

“Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: “Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu.” Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ”

 

Al-Abbas juga merupakan salah satu dari sekitar 80 atau 100 orang sahabat yang bertahan bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dalam Perang Hunain (termasuk anak beliau: Fadhl bin ‘Abbas). Ketika banyak kaum muslimin lari tunggang-langgang meninggalkan nabi, paman nabi ini memegangi pelana baghal sebelah kanan (baghal adalah hewan persilangan antara kuda dan keledai), sementara Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam terus bergerak ke arah musuh di atas baghalnya.

 

Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam meminta al-‘Abbas untuk memanggil orang-orang untuk kembali. Al-‘Abbas pun berteriak dengan selantang-lantangnya: “Wahai orang-orang yang ikut di bawah pohon” (maksudnya bai’at ar-Ridwan). “Wahai orang-orang yang ikut dalam peristiwa malam hari”, “Wahai orang-orang yang hafal surat al-Baqarah”.

 

Maka kaum Muslimin pun menyambut panggilan-panggilan tersebut dan kembali kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

 

Diantara keutamaan al-Abbas lainnya: pada waktu Madinah dilanda kekeringan, Umar bin Khaththab selaku Amirul Mukminin (khalifah) pernah meminta al-Abbas yang masih hidup untuk berdoa memohon kepada Allah agar diturunkan hujan.

 

Shahih Bukhari 3434: Telah bercerita kepada kami Al Hasan bin Muhammad telah bercerita kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshariy telah bercerita kepadaku bapakku, ‘Abdullah bin Al Mutsannaa dari Tsumamah bin ‘Abdullah bin Anas dari Anas radliallahu ‘anhu

 

bahwa ‘Umar bin Al Khaththab ketika mereka ditimpa musibah kekeringan dia meminta hujan dengan berwasilah kepada ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib seraya berdo’a; “ALLOOHUMMA INNAA KUNNA NATAWASSALU ILAIKA BIN ABIYYINAA MUHAMMAD SHALLALLAHU’ALAIHIWASALLAM FATASQIINAA WA-INNAA NATAWASSALU ILAIKA BI’AMMI NABIYYINAA FASQINAA”

 

“Ya Allah, kami dahulu pernah meminta hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami kemudian Engkau menurunkan hujan kepada kami. Maka sekarang kami memohon kepada-Mu dengan perantaraan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk kami”. Anas berkata; “Kemudian turunlah hujan.”

 

Hadits di atas selain menunjukkan keutamaan al-Abbas sebagai sahabat, sekaligus paman nabi dan juga orang shaleh, juga menunjukkan bahwa berdoa dengan bertawasul HANYA BOLEH DILAKUKAN KEPADA ORANG YANG MASIH HIDUP; BUKAN ORANG YANG SUDAH MATI.

 

Simaklah kembali perkataan Umar ra di atas: “kami dahulu“. Maksudnya ketika nabi shalallahu ‘alaihi wassalam masih hidup. Sebab saat itu Umar adalah khalifah. Kemudian perkataan Umar selanjutnya: “dengan perantaraan paman Nabi kami”, yang mana al-Abbas pada waktu itu juga masih hidup, sedangkan nabi sudah wafat.


SEANDAINYA TAWASUL KEPADA ORANG MATI DIBOLEHKAN, TENTU UMAR LEBIH AFDHOL BERTAWASUL KEPADA NABI SHALLALLAHU’ALAIHIWASALLAM (yang sudah wafat), TIDAK KEPADA AL-ABBAS (yang masih hidup). Ini adalah perkara yang jelas.

 

Faedah lainnya adalah disunahkan bertawasul dengan perantara orang shaleh dalam meminta turunnya hujan.

 

Rujukan: Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Bukhari.

Untuk membaca biografi singkat al-Abbas, silahkan lihat:

http://id.wikipedia.org/wiki/Abbas_bin_Abdul-Muththalib

(Visited 705 times, 1 visits today)

Related posts: