Ibnu Mas’ud merupakan seorang ulama dari kalangan sahabat. Ia merupakan jagoan tafsir al-Qur’an, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

 

Shahih Bukhari 4618:

 

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh Telah menceritakan kepada kami bapakku Telah menceritakan kepada kami Al A’masy Telah menceritakan kepada kami Muslim dari Masruq ia berkata; Abdullah radliallahu ‘anhu berkata,

 

“Demi Allah Yang tidak ada Ilah selain-Nya. Tidaklah satu surat pun yang diturunkan dari Kitabullah, kecuali saya tahu, di mana surat itu diturunkan. Dan tidak ada satu ayat pun dari Kitabullah kecuali tahu, kepada siapa ayat itu diturunkan. Sekiranya aku tahu, ada orang yang lebih tahu tentang Kitabullah dan tempatnya bisa ditempuh oleh Unta, maka niscaya aku akan berangkat menemuinya.”

 

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, dalam Kitab “Keutamaan Sahabat.”

 

Salah satu faedah dari atsar ini adalah bahwa pendapat Ibnu Mas’ud sangatlah menjadi patokan bagi penafsiran al-Qur’an. Inilah salah satu yang dimaksud dengan “pemahaman salafush shalih”.  Artinya, menafsirkan al-Qur’an bukan dengan pendapat atau akal sendiri, atau disesuaikan dengan kepentingan kelompok, atau zaman, melainkan melalui ilmu para sahabat yang belajar langsung dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Mereka tahu kapan suatu ayat turun, berkenaan dengan apa diturunkannya, dimana turunnya, apa maknanya, dan sebagainya. Kita baru membahas satu orang sahabat, yaitu Ibnu Mas’ud. Belum Ibnu Abbas yang lebih hebat lagi dan didoakan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguasai al-Qur’an.

 

Screen Shot 2016-04-02 at 6.44.50 AM

At Taubah 100

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”

(Q.S: at-Taubah: 100)

Ayat ini berbicara tentang keutamaan para sahabat, yaitu dua golongan pertama yang disebut, yaitu: golongan muhajirin dan anshar. Dimana Allah ridha kepada mereka. Bayangkan, bukankah keridhaan Allah yang kita cari? Bagaimana mendapatkannya? Dengan menjadi golongan yang ketiga (karena kita saat ini tidak mungkin lagi menjadi golongan muhajirin atau anshar, tidak mungkin). Maka yang mungkin adalah kita menjadi golongan yang ketiga, yaitu menjadi: ORANG-ORANG YANG MENGIKUTI MEREKA DENGAN BAIK. Jadi ayat ini juga berbicara cara memperoleh ridha Allah. Yaitu dengan kita mengikuti jalan para sahabat, cara beragama mereka. Kita ikuti cara beragama mereka. Cara beribadah mereka. Cara beramal, bermuamalah mereka. Kita berjalan mengikuti jejak mereka dan kita berhenti dimana mereka berhenti. Agar kita selamat memperoleh ridha Allah dan selamat dari api neraka.

 

Ayat ini merupakan stempel Allah kepada para sahabat. Ayat ini merupakan garansi dari Allah akan keselamatan bagi siapa saja yang ingin selamat hendaklah mengikuti sahabat, karena Allah ridha kepada mereka. Ayat ini juga sebagai penghancur semua syubhat yang mencela para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Dan masih sangat banyak, puluhan ayat dan hadist yang menunjukkan keharusan kita mengikuti para sahabat, diantaranya kita baca dalam setiap shalat, bahkan dalam setiap rakaat: “ihdinash shiroothol mustaqim, shiroothol ladziina an’amta ‘alaihim”. Jalan yang lurus itu adalah jalan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya, disamping para nabi dan rasul terdahulu.

 

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).”

Muttafaq ‘alaih. HR. Al-Bukhari (no. 2652) dan Muslim (no. 2533 (212)), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu

Hadist di atas diriwayatkan oleh sahabat mulia yang sedang kita bicarakan. Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan keutamaan 3 generasi pertama dalam Islam. Hadist ini juga menjadi sinyal kepada kita bahwa mereka ini patokan kita dalam beragama. Mereka adalah orang-orang yang digaransi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Tegak di atas agama ini, tegak di atas sunnah dan membela keduanya. Ilmunya mendalam dan pengamalannya sesuai dengan yang dimaksud nash-nash.

 

Ibnu Mas’ud juga sahabat yang meriwayatkan atsar berikut:

 

اَلْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ.

“Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian.”

Al-Baa’its ‘alaa Inkaaril Bida’ wal Hawaadits hal. 91-92, tahqiq oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Salman dan Syarah Ushuulil I’tiqaad karya al-Lalika-i (no. 160).

Atsar Ibnu Mas’ud di atas maksudnya adalah bahwa al-jama’ah itu yang dilihat bukan fisiknya, bukan namanya. “Saya ahlus sunnah wal jama’ah”, bukan stempelnya, bukan benderanya, bukan penampilannya, casingnya, dan sebagainya. Bukan. Tapi PEMAHAMANNYA. Karena kebenaran tidak bisa dinilai dari itu semua, melainkan kebenaran itu bisa dinilai dari pemahaman seseorang. Dan al jama’ah adalah mereka yang mengikuti kebenaran, walau dia sendirian.

 

Kembali kepada penafsiran al-Qur’an, seandainya ayat-ayat al-Qur’an dapat ditafsirkan semaunya, maka rusaklah agama kita. Pecahlah umat Islam ke dalam berbagai paham. Sebagaimana yang terjadi sekarang. Karenanya, marilah kita kembali ke pemahaman awal, generasi salafush shalih.

 

Ibnu Mas’ud adalah sahabat yang termasuk awal masuk Islam. Beliau termasuk mereka yang melakukan dua kali hijrah, mengalami shalat di dua Kiblat, ikut serta dalam perang Badar dan perang lainnya. Beliau termasuk orang yang paling ‘alim tentang Al-Qur-an dan tafsirnya sebagaimana telah diakui oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau dikirim oleh ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu ke Kufah untuk mengajar kaum Muslimin. Beliau adalah ulama besar, seorang wali Allah. Seorang sahabat yang mulia. Semoga Allah meridhainya, mengumpulkan kita bersama Rasul Nya yang paling mulia, Muhammad bin Abdillah dan para sahabat-sahabat beliau, yang agama ini Allah kehendaki tegak di muka bumi atas jasa mereka.

(Visited 665 times, 1 visits today)

Related posts: