Mengapa perjuangan Islam saat ini hampir selalu mengalami kandas ditengah jalan, bahkan kekalahan demi kekalahan menimpa kita?

Kita sering melihat di tengah masyarakat dan umat, sebagian saudara-saudara kita yang sangat bersemangat mengobarkan jihad, perlawanan terhadap orang-orang kafir dan perjuangan-perjuangan lainnya yang pada dasarnya jihad yang benar itu sangat mulia. Tak jarang pula kita lihat perlawanan dan perang itu dimotori oleh para pemimpin negri Muslim. Namun, faktanya, kebanyakan dari gerakan-gerakan ini selalu mengalami kekalahan, ditumpas dan musnah. Dimana salahnya?

Jika sesuatu yang mulia kita lakukan, namun maksudnya tidak tercapai, maka para ulama mengatakan, “Mungkin ada masalah pada niat dan tujuan Anda” (baca definisi jihad fii sabilillah di tulisan kami tentang “Hikmah Jihad”).

 

Tujuan jihad yang sebenarnya adalah sebagaimana firman Allah:

 

al-Anfaal: 39

al-Anfaal: 39

“…perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya AGAMA ITU SEMATA-MATA UNTUK ALLAH…” (Q.S: al-Anfaal: 39)

 

al Baqarah: 193

al Baqarah: 193

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah…” (Q.S: al-Baqarah: 193)

Itulah diantara beberapa tujuan jihad: untuk menghilangkan fitnah dan agar agama serta ketaatan semata-mata hanya untuk Allah.

Karenanya Ibnu Umar pernah berkata:

Ibnu Umar: “Kami telah berperang sehingga tidak ada lagi fitnah dan ketaatan hanya untuk Allah. Sedangkan kalian hendak berperang dengan tujuan agar terjadi fitnah dan supaya segala macam ketaatan untuk selain Allah.” (HR Bukhari)

Camkanlah perkataan Ibnu Umar di atas. Dan Ibnu Umar adalah seorang sahabat! Artinya Islam masih di awal-awal kemunculannya, namun beliau sudah mensinyalir adanya penyimpangan dari tujuan dilakukannya jihad fii sabilllah. Maka bagaimana dengan di zaman ini? Di zaman dimana nyaris semua dakwah saja memakai bendera (baca: nama kelompok, jamaah, partai, majelis taklim, dsb), lalu bagaimana lagi jihad?

Lalu, pertanyaannya, apakah tujuan jihad yang digembar-gemborkan sebagian kaum Muslimin saat ini sudah seseuai dengan tujuan disyariatkannya jihad tersebut? Barangkali ada yang tujuan sesungguhnya hanya untuk menaikkan pamor kelompoknya, jamaahnya, sektenya, partai politiknya, dsb. Hanya Allah Yang Maha Tahu. Tapi kalau seperti ini, tentu jihad yang sebenarnya merupakan ibadah mulia menjadi tertolak. Ibadah apapun jika tidak diikhlaskan karena Allah, maka ia tertolak.

 

“Amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan seseorang akan memperoleh (balasan) sesuai dengan apa yang diniatkannya…” (HR Bukhari & Muslim)

 

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuh-tubuh kalian dan tidak juga kepada bentuk rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat hati-hati kalian.” HR Muslim

 

Allah tidak melihat nama-nama kelompok, siapa pendirinya (apakah kyai fulan atau habib fulan), apa perjuangannya, apa benderanya, dst, tapi yang Dia lihat adalah kebersihan hati, yaitu niat. Kalau niat tidak lurus, maka tujuan pun tidak akan tercapai. Minimal dia hanya mendapatkan apa yang dia inginkan dari dunia, tapi tidak mendapat apa-apa di akhirat.

 

Kemudian ada juga masalah pada akidah. Bukankah Allah SWT berjanji?

an-Nuur: 55

an-Nuur: 55

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S: an-Nuur: 55)

Orang yang akan Allah menangkan adalah orang yang AKIDAHNYA BENAR. MENTAUHIDKAN ALLAH. Orang yang tauhidnya benar akan dimenangkan Allah, dan sebaliknya. Kalau kita lihat mereka yang mengklaim diri berjihad, sebagian dari mereka adalah penganut tasawuf, bahkan ada yang penyembah kuburan. Atau mungkin bahkan mereka mengenakan JIMAT ketika berperang. Menggantungkan diri BUKAN kepada Allah. Wa iyyadzubillah. Bagaimana mungkin Allah akan memenangkan orang seperti ini?

Masih banyak lagi penyebab kekalahan Islam belakangan ini. Sebagiannya yang sangat penting dan mendasar telah disebutkan di atas, namun bukan di sini tempat membahas semuanya.

Di sini justru kami ingin mengetengahkan salah satu BENANG MERAH SEBUAH kesalahan yang selalu terjadi pada perjuangan-perjuangan kaum Muslimin belakangan ini, yaitu: kekeliruan dalam hal cara dan terlebih strateginya (ini jika jihadnya sudah lurus niat,  tujuan dan pelakunya).

Marilah kita mengambil pelajaran dari sejarah AWAL pengembangan Islam. Sesungguhnya Allah telah mengajarkan kepada kita dari pengembangan Islam pada awalnya sehingga SUKSES berkembang ke seluruh dunia. Adakah kita mau mengambil pelajaran?

Perkembangan Islam melalui beberapa fase atau tahap.

Tahap pertama, fase awal di Makkah dimana kaum Muslimin menghadapi siksaan dan penghinaan berat hingga banyak yang terbunuh. Di sini umat Islam sangat minoritas dan lemah, walau mereka berada di Tanah Suci, di Baitullah. Di Rumah Allah. Dan walau kaum Muslimin berada di posisi yang benar, di atas al-haq dan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedang mereka di atas kebathilan dan kemusyrikan.

Namun Allah tidak memerintahkan Rasul-Nya untuk serta-merta mengambil-alih kepemimpinan Makkah, merebut kota, atau bahkan mendirikan negara Islam di Makkah. Coba kita renungkan.

 

Kita lihat di sini, Allah tentu punya hikmah. Kurang apalagi kezhaliman yang dilakukan kaum musyrikin Quraisy? Mereka memasukkan patung-patung ke dalam Baitullah, mengatakan bahwa Allah memiliki anak perempuan (an-Najm: 29), bahkan ketika didakwahi untuk HANYA menyembah Allah saja, mereka menolak! Bahkan mengusir Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam! (lalu bagaimana dengan perlakuan kasar sebagian kaum Muslimin terhadap pemimpin mereka yang notabene orang Islam juga? Coba perhatikan pula Musa as diperintahkan berdakwah kepada Fir’aun laknatullah dengan lemah-lembut!).

al-Anfaal: 34

al-Anfaal: 34

“Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidilharam, dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa…” (Q.S: al-Anfaal: 34) 

Kenapa Allah tidak mengadzab mereka? Jawabannya antara lain ada di ayat sebelumnya, yaitu karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam berada diantara mereka dan mereka minta ampun (al-Anfaal: 33). Namun, setelah kemenangan Islam di akhir hayat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, rupanya ada hikmah benang merah yang dapat kita tarik yang bermanfaat bagi kita yang hidup sesudahnya agar mengambil pelajaran dalam berjuang dan memenangkan Islam.

Sekali lagi, Allah tidak memerintahkan Rasul-Nya untuk serta-merta mengambil-alih kepemimpinan Makkah, merebut kota, atau bahkan mendirikan negara Islam di Makkah di awal-awal masa dakwah. Tidak!

Sesungguhnya Allah hendak mengajarkan kepada kita suatu STRATEGI DAKWAH DAN POLITIK PENGEMBANGAN ISLAM yang akan menjadi PELAJARAN BAGI KAUM MUSLIMIN SETERUSNYA setelah nabi mereka wafat!

Kita lanjutkan ke fase kedua, fase hijrah. Di Madinah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mulai membangun Negara Islam. Kemudian di Madinah Allah mulai menurunkan perintah perang. Dan serangkaian perang pun mulai terjadi, Perang Badar, Perang Uhud, dll.

Namun lihatlah, walau sudah beranjak perang, tapi masih FOKUS pada memerangi kaum Arab Jahiliyah saja. Semoga kita kaum Muslimin dapat melihat benang merah strategi yang diajarkan Allah ini kepada kita.

Perintah perang yang pertama diturunkan setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam berada di Madinah, bukan di Makkah ketika masih lemah.

Sekali lagi, Allah tentu punya hikmah, bagi orang yang mau berpikir tentunya.

“Perintah perang yang pertama turun di Madinah. Setelah ayat ini turun, Rasulullah shalallahu ‘alaihiwassalam mulai memerangi orang-orang yang telah memeranginya dan menahan diri terhadap orang-orang yang tidak memeranginya” (Abu Ja’far ar-Razi meriwayatkan).

 

Ayat perintah perang tersebut adalah:

 

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah[117] itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.  Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (Q.S: al-Baqarah: 191-193).

Setelah melakukan serangkaian perang, menang dan kalah silih berganti, akhirnya Makkah ditaklukan dan bahkan jazirah Arab mulai memeluk Islam.

 

Setelah kaum musyrikin mulai takluk, kalah, Makkah kembali ke pangkuan Islam, barulah Allah mulai memerintahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan kaum Muslimin untuk mulai memerangi Ahli Kitab (Romawi). Romawi (dan juga Persia) waktu itu adalah kekuatan besar dunia. Mungkin seperti Amerika Serikat dan Inggris saat ini.

at-Taubah: 29 |  ayat perintah memerangi Ahli Kitab

at-Taubah: 29 | ayat perintah memerangi Ahli Kitab

 “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (Q.S: at-Taubah: 29)

 Ayat di atas menegaskan 2 pilihan bagi Ahlu Kitab: diperangi atau bayar jizyah dengan patuh dan tunduk (hina). Lihat tulisan kami tentang ahlu dzimmah, yaitu orang-orang kafir dan Ahlu Kitab yang tinggal di negri Islam.

Ayat di atas merupakan ayat yang pertama kali memerintahkan kaum Muslimin untuk memerangi Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Diturunkan tahun 9 H.

Maka, mulailah pasukan Islam bergerak ke barat dan ke timur, menaklukan Romawi dan Persia. Kemenangan demi kemenangan diraih, pasukan Islam tak terkalahkan, walau Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah wafat.

Ini semua dilakukan dibawah tuntunan dan perintah Allah SWT. Apakah Allah SWT tidak mampu untuk memenangkan kaum Muslimin bahkan Rasul-Nya dari awal? Dari waktu di Makkah?? Sungguh, Ia Maha Mampu. Namun Allah hendak memberikan hikmah dan pelajaran kepada kita semua yang hidup kemudian setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam wafat: 

hendaklah kita umat Islam memperhatikan siasat dan strategi dalam berjuang. Jika kita masih lemah, janganlah kita menghadapi musuh dengan frontal. Ada tahap-tahapnya. Ada grand strategy, tetapi di saat yang bersamaan ada fokus dan prioritas, mana yang harus dihadapai terlebih dahulu. Janganlah kita membunuh diri kita, membinasakan diri kita sendiri. Berkoar-koar mengancam negara ini atau negara itu, pemimpin A atau pemimpin negara B. Bahkan yang ditantang tak tanggung-tanggung, negara super power. Namun kita tidak punya cara untuk mempertahankan diri. Lalu esok hari kita lihat negri Islam itu dibom dan dilumat dari udara tanpa bisa melawan. Kaum wanita dan anak-anak menjadi korban. Ini adalah kekonyolan luar biasa. Hanya nafsu saja. Dan cara seperti ini sangat jauh dari tuntunan Allah. Adakah Allah memerintahkan nabi untuk menghadapi Romawi di awal merebaknya Islam?

Sesungguhnya, Allah sangat memperhatikan jatuhnya korban dan kerugian di pihak orang beriman seminim mungkin, walau dilain pihak Allah ingin menjadikan sebagian kita sebagai syuhada.

“Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.”

(Shahîh. HR an-Nasâ`i (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi no. 1395)

 

Yang Ditindas Sebaiknya Berhijrah!

Allah SWT juga memberikan garis, panduan bagi kaum Muslimin yang ditindas untuk BERHIJRAH! Lihatlah Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam dulu dan kaum muhajirin. Dalam keadaan tertindas, mereka hijrah. Akhirnya setelah mengatur kekuatan dsb, mereka dapat merebut kembali Makkah. Itulah petunjuk Islam.

 

Dan simaklah firman Allah ‘azza wa jalla ini:

 

al-Anfaal: 72 | perintah hijrah jika ditindas

al-Anfaal: 72 | perintah hijrah jika ditindas

 

“Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka.” (Q.S: al-Anfaal: 72)

 

 

Jadi Islam selalu mengajarkan cara-cara yang tepat, solusi cerdas untuk mengatasi kekalahan, keadaan lemah dan tertindas, dsb. Islam tidak mengajarkan tindakan membabi-buta.

 

Bahkan ada 2 jenis metode dakwah yang sering Allah perintahkan kepada rasul-rasul-Nya:

1) Metode dakwah dengan diam-diam.

2) Metode dakwah terang-terangan

 

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”.(al-Hijr: 94).

Ini merupakan perintah Allah kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam untuk merubah strategi dakwahnya di Makkah dari diam-diam menjadi terang-terangan.

Sebelumnya, Nabi Nuh as yang merupakan rasul pertama juga melakukan kedua strategi dakwah ini. Lihatlah cuplikan pengaduan Nuh as kepada Allah:

“Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam” (Nuh: 8-9).

 

Ini menunjukkan sekali lagi, Islam tidak menutup mata terhadap situasi dan kondisi dan juga zaman dimana perjuangan dan dakwah itu dilakukan. Kita harus memperhatikan si-kon agar perjuangan dapat berhasil. Tidak asal main labrak dan terjang seperti yang sering terjadi.

 

Pelajaran penting lainnya dari kemenangan perjuangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan sahabat-sahabatnya adalah:

 

BERESKAN DULU MASALAH AKIDAH, BARU JIHAD.

 

Kita lihat, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bisa dibilang fokus berdakwah tauhid selama 13 tahun di awal dakwahnya, yaitu di Makkah dan kemudian terus berlanjut hingga akhir hayat beliau. Tapi pondasi penting tauhid dan akidah dibangun di masa-masa awal, yaitu semasa dakwah di Makkah. Sampai-sampai beliau pernah melarang ziarah kubur.

Jadi ketika melaksanakan perang, jihad fii sabilillah, mereka semua 1 akidah. Persatuan dalam 1 akidah.

Sedangkan kebanyakan kaum Muslimin sekarang melakukan ‘persatean’, bukan persatuan, karena akidahnya macam-macam. Belang-belang. Warna-warni. Ada yang akidahnya Murji’ah, Mu’tazilah, Tasawuf, Asy’ariyah, Khawarij, Syi’ah, dsb. Apakah akidah-akidah ini ada di zaman Rasulullah? Tidak! Bagaimana kita akan dimenangkan Allah kalau syarat utama agar menang adalah bertauhid dan berakidah dengan benar? Lihat surat an-Nuur: 55 di atas.

Kita mengetahui di sejumlah tempat di al-Qur’an Allah memberitahu nabi dan sahabat-sahabat beliau bahwa keikutsertaan orang-orang munafik dalam peperangan hanya akan MELEMAHKAN pasukan kaum Muslimin. Demikianlah menunjukkan bahwa kesatuan akidah ini tidak bisa ditawar-tawar.

Saat ini bagaimana akan dimenangkan Allah, jika  yang gembar-gembor jihad saja, ketika berkumandang panggilan “hayya ‘alal falaaah” tidak mau shalat berjamaah. Rapat masih berlanjut, pembicaraan dan pertemuan lagi tanggung, waktu shalat masih lama, panggilan Allah pun dikesampingkan…

 

Bagaimana kita akan dimenangkan Allah kalau tujuan fii sabilillah supaya kalimat Allah adalah yang tertinggi (la ilahaillallah), sementara kebanyakan kaum Muslimin tidak paham makna la ilahaillallah? Bahkan mencampurkan keimanan dengan kesyirikan? Mungkin sebagian mereka maju ke medan tempur dengan menggunakan jimat pula? Bagaimana Allah akan memberi kemenangan?

 

” Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” (Q.S: an-Nuur: 55)

 

Yusuf: 106 | kebanyakan manusia tidak beriman melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah

Yusuf: 106 | kebanyakan manusia tidak beriman melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah

 

” Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (Q.S: Yusuf: 106)

Kita lihat, begitu muncul kebid’ahan-kebid’ahan sufi, jahmiyah, khawarij, Syiah, mu’tazilah, orang yang mengatakan Allah ada dimana-mana, dll, umat Islam pun mulai tersendat-sendat dan kejayaan pun mulai redup. Ditambah lagi dengan munculnya al-wahn. Penyakit cinta dunia.

 

Demikianlah, kita berharap semoga risalah kecil ini dapat menggugah para pemimpin Islam, pemegang kekuasaan, baik kecil maupun besar agar dapat meneladani strategi dakwah, politik dan perang Islam yang diajarkan Allah. Dan seyogyanya dakwah tauhid diberikan porsi yang sangat besar karena sangat berkaitan dengan kesuksesan dan kejayaan Islam. Lihatlah al-Qur’an. Isi al-Qur’an yang paling banyak adalah tauhid! Dakwah para nabi dan rasul adalah tauhid. Dan adakah Allah membiarkan nabi dan rasul-Nya kalah? Tdiak. Walau terkadang mereka kalah, tapi kemenangan terakhir tetap pada mereka.

 

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu…” (Q.S: an-Nahl: 36)

 

 

Dan sadarilah, agar para dai mendahulukan serta mengutamakan dakwah tauhid agar Islam jaya kembali. Tidaklah mungkin Islam bangkit dan jaya jika umatnya dikotori oleh kesyirikan, sedangkan tujuan dari jihad itu sendiri adalah untuk menegakkan kalimat tauhid dan agar kalimat tauhid menjadi kalimat yang tertinggi.

(Fadil Aziz)

 

artikel terkait:

 hikmah jihad

3 pesan nabi kepada panglima

larangan-larangan Umar kepada ahlu dzimmah

Dalil Tauhid Ada 3

Bukti Orang Musyrik Percaya pada Allah

(Visited 2,307 times, 1 visits today)

Related posts: