Perang Badar Terjadi  Secara Tidak Sengaja...

Kita semua tentu mengetahui Perang Badar. Perang yg menurut sejarah pertama kali dilakukan kaum Muslimin, yaitu setelah hijrah ke Madinah. Terjadi pada 17 Ramadhan 2 H. Perang ini merupakan tonggak sejarah kejayaan Islam karena kemenangan yg diberikan Allah kepada kaum Muslimin dan banyaknya pemimpin musyrik Quraisy yg mati dan tertawan (70 mati, 70 pula tertawan). Perang Badar merupakan titik balik perjuangan Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam dan para sahabat dan kaum Muslimin seluruhnya.

 

Namun, tahukah Anda, bahwa sesungguhnya Perang Badar terjadi secara tidak sengaja?

 

Sebenarnya Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam berniat menyergap kafilah dagang Abu Sufyan, seorang pemimpin utama musyrik Quraisy yg kaya-raya. Sebagaimana hadits Ka’ab bin Malik:

 

“Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam pernah pergi bersama orang-orang Muslim dengan tujuan MENGHADANG KAFILAH DAGANG QURAISY, hingga Allah ta’ala mempertemukan mereka & musuh mereka pada SAAT YG TDK DITENTUKAN.

 

Ibnu Jarir menceritakan dari ‘Umair bin Ishaq, ia berkata:

 

“Kemudian Abu Sufyan bersama kafilahnya datang dari Syam. Lalu Abu Jahal keluar (dari Makkah) utk melindunginya dari Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam dan para sahabat beliau. Maka mereka pun akhirnya bertemu di Badar, masing-masing pihak tidak menyadari antara satu dgn lainnya, sampai akhirnya bertemulah para pensuplai air dari keduanya sehingga mereka saling menyerang.”

 

Inilah yg dimaksud oleh firman Alla ta’ala:

al anfal 42

al anfal 42

“…Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan[618], yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)[619]. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S: al-Anfal: 42)

 

Jadi kedua pasukan, kaum Muslimin dan musyrik Quraisy sebenarnya tdk merencanakan menentukan waktu dan tempat perang mereka. Namun Allah-lah yg mempertemukan kedua pasukan tsb,

 

“…agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan[618], yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)…”

 

Di satu sisi Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam mengintai Abu Sufyan, di sisi lain Abu Sufyan juga memperoleh informasi yg tdk diketahui oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam  & para sahabat bahwa mereka mengetahui kehadiran mata-mata kaum Muslimin dan kemudian melaporkannya ke Makkah.

 

Dalam kitab as-Sirah diceritakan bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam mengutus Basbas bin ‘Amr, ‘Ady Ibnu Abi az-Zaghba’ al-Juhaniyain utk mencari tahu tentang Abu Sufyan sehingga mereka sampai di Badar, mereka berdua mengistirahatkan unta mereka di tepi saluran air, yg di dalamnya terdapat batu-batu kecil. Kemudian mereka berdua mengisi  geribah-nya (tempat air dari kulit) dgn air, tiba-tiba mereka berdua mendengar dua orang budak wanita  bertengkar. Salah seorang dari budak tersebut mengatakan kepada temannya:

 

“Berikan hakku.”

 

Sedangkan yg lainnya berkata:

 

“Sesungguhnya kafilah itu akan datang besok atau lusa dan setelah itu aku akan memenuhi hakmu.”

 

Lalu pertengkaran mereka berdua diselesaikan oleh Majdi bin ‘Amr seraya berkata:

 

“Engkau benar.”

 

Hal itu di dengar oleh Basbas bin ‘Amr, ‘Ady Ibnu Abi az-Zaghba’ al-Juhaniyain lalu keduanya mereka menunggangi unta hingga sampai kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam dan kemudian menyampaikan berita tersebut.

 

Di lain pihak, Abu Sufyan datang dari Syam dan sampai di Badar, lalu berkata kepada Majdi bin ‘Amr :

 

“Apakah kamu mendapati orang asing datang ke air ini?”

 

Majdi bin ‘Amr menjawab, “Tidak demi Allah, tetapi tadi aku melihat dua orang yg mengistirahatkan unta mereka di tempat ini dan mengisi geribahnya dgn air ini. Setelah itu keduanya pun pergi.”

 

Abu Sufyan pun mendatangi bekas tempat peristirahatan Basbas bin ‘Amr, ‘Ady Ibnu Abi az-Zaghba’ al-Juhaniyain kemudian mengambil kotoran unta dan memeriksana. Benar saja, di dalamnya terdapat biji kurma.

 

Maka Abu Sufyan pun berkata:

 

“Demi Allah, ini adalah makanan binatang orang Yatsrib (Madinah).”

 

Selanjutnya Abu Sufyan menggiring kafilahnya keluar Badar ke arah pantai. (Ibnu Katsir mengatakan inilah yg dimaksud oleh firman Allah tadi: “…sedang kafilah itu berada di bawah kamu.”

 

Setelah merasa aman, Abu Sufyan pun berkata:

 

“Sesungguhnya Allah telah menyelamatkan kafilah, harta benda dan kaum laki-laki kalian. karenanya, kembalilah kalian.

 

Abu Jahal berkata: “Demi Allah, kami tidak akan kembali sampai kami mendatangi Badar…”

 

Abu Jahal pun membawa pasukan ke Badar utk melindungi Abu Sufyan. Namun Abu Sufyan tidak berada di Badar. Akhirnya pasukan Abu Jahal pun bertemu pasukan Nabi shalallahu’alaihi wassalam di Badar.

 

Inilah yg dimaksud oleh firman Allah ta’ala:

 

“Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu[617]. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan[618], yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)[619]…” (Q.S: al-Anfal: 42)

 

Demikianlah rencana Allah pasti terlaksana dan pasti memiliki hikmah. Perang Badar pun terjadi tanpa direncanakan. Abu Sufyan yg sebetulnya menjadi target utama malah selamat, karena tdk ikut Perang Badar. Itulah kehendak Allah (yg kemudian Abu Sufyan akhirnya memeluk Islam, bahkan anaknya Muawiyyah bin Abi Sufyan menjadi khalifah ke-5).

 

juga agar:

 

“…agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)[619]…” (Q.S: al-Anfal: 42)

 

Muhammad bin Ishaq mengatakan:

 

“Supaya org yg sudah kafir itu menjadi kafir setelah ada hujjah dan setelah mereka melihat tanda-tanda kekusaan Allah ta’ala & juga pelajaran.

 

Saya berkata: “agar orang-orang beriman pun jadi dapat menyebarkan hujjah kebenaran karena mereka tetap hidup. Hidup di bawah kebenaran dan hujjah yg nyata”.

 

Hikmah Lain:

 

Jika perang tsb ditentukan waktu dan tempatnya, kemungkinan mereka akan tahu jumlah lawan 3x lipat sehingga menjadi gentar & berbantah-bantahan.

al-Anfal:43

al-Anfal:43

 

“…Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (Q.S al-Anfal: 43)

 

Kemudian Nabi memberitahukan mimpinya kepada para sahabat untuk meneguhkan hati mereka.
(sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 4 hal 52-56, 57 | Pustaka Imam Syafii | 2008 | tafsir dari surat al-Anfal:42)

 

Saya mengatakan, diantara faedah dari hadits & atsar ini adalah:

 

ORANG-ORANG MUSYRIK QURAISY ADALAH ORANG-ORANG YG PERCAYA KEPADA ALLAH (RUBUBIYAH ALLAH). Sebagaimana perkataan-perkataan Abu Jahal & Abu Sufyan di atas. Mereka bersumpah & bersyukur kepada Allah! Namun mereka kaum yg kafir, musyrik, menyekutukan Allah & menjadi target pertama dakwah Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam!

 

Kenapa?? KARENA MEREKA TIDAK BERTAUHID ULUHIYAH, TIDAK MENGESAKAN ALLAH DLM BERIBADAH.  Disamping menyembah Allah, mereka pun menyembah Latta, Uza & Manat serta sesembahan-sesembahan lainnya. INILAH MAKNA KESYIRIKAN.

az-Zumar: 3

az-Zumar: 3

 

” Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (Q.S: az-Zumar: 3)

 

“ Maka apakah patut bagi kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al- Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan; Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama­nama yang kamu dan bapak-bapak karnu mengada­adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan rnereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita­citakannya (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. ” (QS. An-Najm 19-25).

 

(Visited 446 times, 1 visits today)

Related posts: