DALIL BAGI ORANG YANG BERAGAMA DENGAN MENGGUNAKAN AKAL & PERASAAN

 

al-Maaidah: 18

al-Maaidah: 18

 

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya… “

(Q.S: al Maaidah: 18)

 

“…Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). ”

(Q.S: al Maaidah: 75)

 

Sungguh kita telah mengetahui bahwa Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani dan Allah telah menetapkan bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir, musyrik (Q.S: al-Maaidah: 72) dan Neraka Jahanam tempat mereka kembali (Q.S al-Bayyinah: 6).

 

Tapi ironis, mereka JUSTRU adalah orang-orang yang mengaku sebagai:

 

  • ‘kekasih Allah’,
  • sebagai ‘anak-anak Allah’,
  • dan mereka  mengaku sangat sayang dan cinta kepada Isa as sampai-sampai mengangkat beliau ketingkatan ‘tuhan’.

 

Jika mereka hanya mengaku agamanya sebagai agama yang paling benar, tentu itu biasa, normal. Semua agama pasti mengaku sebagai agama yang paling benar, walau hanya Islam satu-satunya agama yang diterima Allah:

 

Ali Imran: 85

Ali Imran: 85

 

 

 

 

 

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.  (Q.S: Ali Imran: 85).

 

Ali Imran: 19

Ali Imran: 19

 

 

 

 

 

 

 

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Q.S: Ali Imran: 19)

 

Jadi, walau mereka mengaku agama mereka paling benar, tetaplah tidak diterima. Karena agama yang paling benar di sisi Allah hanyalah Islam semata. Namun mereka mengaku sebagai  ‘kekasih Allah’, sebagai ‘anak-anak Allah’ dan mereka  mengaku sangat sayang dan cinta kepada nabi mereka. Semuanya itu sangat baik (dan ingat, mereka adalah orang-orang yang percaya pada Allah; bukan orang yang mengingkari Allah sebagai Tuhan semesta alam, bukan).

 

‘Kekasih Allah’, ‘anak-anak Allah’, semuanya terlihat elok. Bagus. Namun sayang, bagus dan eloknya itu dilihat dari kacamata manusia. Sedangkan dari kacamata Allah, mereka telah melakukan kekufuran dan berdusta atas nama Allah.

Aduhai, celakalah manusia yang menggunakan akal dan perasaannya semata dalam menilai baik dan benar! Aduhai, merugilah orang-orang yang berpatokan pada akal dan perasaannya dalam beragama.

 

Karenanya Allah SWT berfirman:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, sedangkan ia amat baik bagimu. Boleh jadi kamu menyukai sesuatu,sedangkan ia adalah amat buruk kepadamu. Dan Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”  (Q.S: al-Baqarah: 216)

 

Jadi jelaslah, perasaan dan akal tidaklah bisa dijadikan hujjah. Tidak bisa dijadikan patokan. Akal dan perasaan bisa berbeda dari satu manusia ke manusia lainnya. Dan tidakkah kita mau belajar dari kesalahan Yahudi dan Nasrani? Apakah kita masih mau mengatakan ‘ini baik, itu baik, menurut saya’ (dan siapakah ‘saya’)??

 

  • Ibadah ini kan baik.
  • Ibadah itu juga baik.
  • Apa salahnya perayaan tahun baru Islam? Itu bagus, syiar Islam! (lalu mana dalilnya? Kalau itu bagus, mengapa tidak Allah syariatkan? Lalu karena Allah tidak mensyariatkannya, mengapa Anda mensyariatkannya? Allah-kah yang membuat syariat, atau Anda?).
  • Dll.

 

Dan bukankah dulu iblis juga melakukan kesalahan yang sama?

Iblis juga menggunakan akal, perasaan dan hawa nafsunya!

 

Tengoklah argumen iblis ketika ia menolak untuk sujud kepada Adam as:

 

Q.S: Shaad: 75

Q.S: Shaad: 75

 

 

 

 

 

Q.S: Shaad: 76

Q.S: Shaad: 76

 

 

 

 

“Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.”

“Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”.

(Q.S: Shaad: 75-76)

 

Itulah logika iblis. Lihatlah argumennya: “aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.!” Tapi argumen Iblis ini menurut hawa nafsu dan seleranya sendiri yang bertentangan dengan wahyu dan kenyataan. Allah menciptakan Adam lebih baik dari jin dan malaikat, lihat bagaimana Allah memperlihatkan kebolehan Adam as dihadapan para malaikat di surat al-Baqarah: 31-33. Maka dari itu Allah (hendak) menjadikan Adam as sebagai khalifah di muka bumi dan memerintahkan malaikat dan iblis untuk sujud kepada Adam. Namun iblis menolak perintah Allah, bahkan berargumen dengan logika dan perasaannya sendiri.

 

Celakalah iblis, sebagaimana juga celakalah orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mengikuti hawa nafsu, logika, akal dan perasaan. Dan celaka pulalah orang-orang yang mengikuti mereka semuanya. Wa iyyadzubillah.

 

Maka, yang benar adalah kita beragama dengan mengikuti “dalil”. Mengikuti wahyu. Tengoklah firman Allah SWT:

 

“… Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, …”

(Q.S: Yunus: 109)

” Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata,…” (Q.S:  108)

 

Para nabi mengajak manusia dengan hujjah yang nyata. Hujjah kita adalah al-Qur’an dan as-Sunnah/hadits. Maka marilah kita kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman yang shahih, yaitu pemahaman generasi awal, salaful ummah (lihat tulisan tentang “pentingnya pemahaman yang benar terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah”).

 

Allah berfirman:

an-Nisaa: 59

an-Nisaa: 59

 

 

 

 

 

 

 

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Q.S: an-Nisaa’: 59)

 

Dan janganlah kita menjadi orang yang memperturutkan hawa nafsu (sedangkan kita sendiri tidak dapat membedakan mana hawa nafsu, mana akal? Dan bagaimana kita dapat menjamin pula akal kita berada di rel yang benar? Bahwa akal kita tidak bercampur dengan hawa nafsu?).

 

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…” (Q.S: al-Furqon: 43)

 

Artinya hawa nafsulah yang selalu diikutinya, dijadikannya patokan, bukan ayat-ayat Allah dan petunjuk Rasul-Nya.

 

Dan ingatlah, iblis dan syaithan SANGAT LIHAI menjadikan perbuatan buruk dan dosa terasa indah dimata pelakunya:

 

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (Q.S: al-Hijr: 39)

“…dan syaithan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. ” (Q.S: al-An’aam: 43)

 

 

Manusia adalah mahluk yang sangat lemah. Akal manusia pun sangat terbatas. Sedangkan hati dan perasaanya sangat mudah dimasuki bisikan dan was-was syaithan. Iblis dan bala tentaranya memiliki kemampuan dan bahkan sudah berjanji akan menjadikan perbuatan buruk manusia terasa/dipandang indah oleh manusia itu sendiri. Itulah perbuatan iblis dan syaithan. Namanya talbis iblis. Sesuatu yang buruk dijadikannya terasa baik. Sekali lagi, celakalah orang yang mengedepankan akal dan perasaanya dalam perkara agama.

 

Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

Seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya (sepatunya).” (HR. Abu Daud no. 162. Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Marom bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

Kata Ash Shon’ani rahimahullah, “Tentu saja secara logika yang lebih pantas diusap adalah bagian bawah sepatu daripada atasnya karena bagian bawahlah yang langsung bersentuhan dengan tanah.” Namun kenyataan yang dipraktekkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah demikian. Lihat Subulus Salam, 1: 239.

 

Kesalahan-kesalahan manusia karena menjadikan akalnya, perasaannya dan hawa nafsunya sebagai tuntunan cukup banyak. Marilah kita kembali kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani yang sudah seharusnya dijadikan pelajaran bagi kita:

 

“ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah,” (Q.S:  al-Baqarah: 140)

 

Selama ini orang-orang Yahudi dan Nasrani mengaku sebagai pengikut Ibrahim as, sebagai penganut agama Ibrahim as. Tapi itu menurut persangkaan mereka belaka. Sedangkan Allah membantahnya:

 

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”. (Q.S:  Ali Imran: 67)

 

Dan inilah LOGIKA FIR’AUN:

“…Aku hanya mengemukakan kepadamu, APA YANG AKU PANDANG BAIK; dan aku hanya menunjukkan kepadamu jalan yang benar.” (Q.S: Ghafir: 29)

Itulah perkataan fir’aun kepada pengikutnya. Dia berusaha meyakinkan orang-orang bahwa dialah yang benar. Padahal di depannya berdiri Musa as dan Harun as yang diutus Allah yang membawa ayat-ayat Allah. Tapi itulah fir’aun. Penguasa. Logika, pikiran dan perkataannya mempunyai pengaruh besar terhadap manusia, terutama manusia yang hatinya condong mengingkari petunjuk dan kebenaran. Ini semua diungkapkan Allah SWT agar kita mengambil pelajaran. Maka, marilah kita mengambil pelajaran dari kesalahan orang-orang terdahulu. Mulai dari iblis, fir’aun, orang-orang Yahudi, hingga Nasrani. Janganlah kita mengulang kesalahan mereka.

 

“… Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, …” (Q.S: Yunus: 109)

 

Sami’na wa atho’na.

 

Lalu bagaimana jika selama ini sering kita lihat agama Islam beriringan dengan ilmu pengetahuan. Bukankah itu bukti bahwa agama Islam itu logis?? Jawab: tetap yang kita dahulukan adalah wahyu, bukan ro’yu (akal). Kalau dia sesuai dengan ilmu pengetahuan atau bukti empiris, KARENA AGAMA ISLAM INI BERASAL DARI ALLAH, SANG MAHA PENCIPTA ALAM SEMESTA INI. Namun, akal hanya berfungsi sebagai pendukung. Jika akal kita ‘tidak sampai’, tidak dapat menjelaskan, tetaplah dalil/wahyu yang kita ikuti. Barangkali nanti sekian puluh atau sekian ratus tahun ke depan anak-cucu kita yang akan mendapat izin membuktikannya secara ilmu pengetahuan oleh Allah, atau barangkali ia akan tetap menjadi rahasia Allah dan Allah pasti memiliki hikmah dibaliknya.

 

Q.S: Luqman: 27

Q.S: Luqman: 27

 

 

 

 

 

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

(Q.S: Luqman: 27)

“kalimat Allah” adalah ilmu-Nya dan hikmah-Nya.

 

Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk mentaati ajaran Nabi dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam dan mewafatkan kita dalam Islam.

Ya Allah, wafatkanlah kami dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah kami bersama orang-orang yang shaleh  (doa Nabi Yusuf as, Q.S: Yusuf: 101)

 

(Visited 1,452 times, 1 visits today)

Related posts: