Sesungguhnya Islam tidak akan lengkap tanpa as-Sunnah. Kami telah mengungkapkan begitu banyak dalil tentang kehujjahan as-Sunnah dalam tulisan tentang “ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa dipisahkan dari ketaatan kepada Allah”. Sebelumnya, kita pun telah membahas ‘makna dari as-Sunnah’. Maka kini sudah waktunya kita membahas dan mengungkap, apa saja fungsi-fungsi dari hadits atau as-Sunnah itu  dalam kaitannya dengan al-Qur’an.

 

“Aku tinggalkan 2 perkara yang kalian TIDAK AKAN TERSESAT SELAMANYA jika kalian berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah wa Sunnati. Keduanya tidak akan berpisah hingga bertemu di telagaku.” HR Hakim, shahih

 

Kami akan mengambil rujukan dari sebuah buku yang bagus sekali mengenai masalah ini yang berjudul “Kedudukan as-Sunnah dalam Syari’at Islam,” karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka at-Taqwa, cetakan ke-3, 2009.

 

Maka fungsi-fungsi dari hadits atau as-Sunnah terkait dengan al-Qur’an adalah:

 

1) As-Sunnah sebagai pemerinci, penafsir ayat-ayat yang mujmal (global) dari al-Qur’an.

2) As-Sunnah memberikan taqyiid (batasan).

3) As-Sunnah memberikan takhshiish (pengkhususan) terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang mutlak dan ‘aam.

 

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata: “Hubungan as-Sunnah dengan al-Qur’an ada tiga macam:

 

1) Terkadang as-Sunnah berfungsi sebagai penguat hukum yang sudah ada di dalam al-Qur’an

2) Terkadang as-Sunnah berfungsi sebagai penafsir dan pemerinci hal-hal yang disebut mujmal (global) dalam al-Qur’an

3) Terkadang as-Sunnah menetapkan dan membentuk hukum yang tidak terdapat dalam al-Qur’an.

 

Hukum-hukum tambahan itu merupakan tasyri’ (pensyariatan) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib kita taati, tidak boleh mengingkarinya. Tasyri’ tersebut sama sekali bukan mendahului al-Qur’an, bahkan sebagai wujud pelaksanaan perintah Allah agar kita mentaati Rasul-Nya.

 

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah…”

(Q.S: an-Nisaa’: 80)

 

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku…”

(Q.S: Ali Imran: 31)

 

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata,

 

“Sesungguhnya sunnah yang memiliki kedudukan yang agung dalam pembentukan syariat hanyalah sunnah yang telah tetap dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berbagai jalur periwayatan ilmiah dan sanad shahih yang telah dikenal oleh para ulama yang memahami hadits dan para perawinya (pen: tidak semua ulama paham ilmu hadits, apalagi ustadz, apalagi sekedar pemberi ceramah; pemberi ceramah belum tentu ustadz). Sunnah yang dimaksud BUKANLAH sunnah yang terdapat dalam beragam kitab, baik dalam kitab tafsir, kitab fiqih, at-targhib wat tarhib, kitab raqa-iq, kitab nasihat, dll. Sebab di dalamnya terdapat banyak HADITS LEMAH, MUNGKAR DAN PALSU, bahkan pada sebagiannya terdapat hadits yang Islam sendiri berlepas diri darinya. Contoh hadits Harut dan Marut dan kisah al-Gharaniq…”

 

Beliau melanjutkan,

 

“Maka kewajiban bagi para ulama, terlebih bagi mereka yang menyebarkan fiqih, serta fatwa mereka kepada manusia, agar TIDAK MERASA PUAS berhujjah (berdalil) dengan hadits, KECUALI SETELAH MEMASTIKAN KESHAHIHANNYA. Karena, kitab-kitab fiqih yang biasa mereka jadikan rujukan DIPENUHI dengan hadits-hadits lemah, mungkar, dan tidak ada asal-usulnya, sebagaimana hal itu telah diketahui di kalangan para ulama”. (Manzilatus Sunnah fil Islaam wa Bayaan annahu Laa Yustaghna ‘anhaa bil Qur-aan, hal 15).

 

Kaidah di atas adalah kaidah yang sangat penting diketahui umat, karena salah satu sumber perselisihan yang banyak saat ini karena kecerobohan, kejahilan dan ketidakmautahuan para penceramah agama akan hal ini(kami tidak mengatakan ‘guru agama’, karena kalau guru, seharusnya tidak melakukan hal ini; orang yang menyandang predikat ‘guru’ haruslah orang yang bertanggungjawab dan dapat mempertanggungjawabkan ilmunya yang diajarkannya kepada manusia, apalagi ilmu akhirat; kebanyakan yang beredar di tengah masyarakat kita saat ini adalah ‘penceramah agama’, orang yang pandai berkata-kata, orator, bahkan menghibur manusia, entertainer yang tahu beberapa ayat atau hadits, dsb, namun tidak memiliki ilmu agama yang memadai).

 

Kenapa kami katakan kecerobohan dalam berdalil, membawakan ‘hadits-hadits’ palsu, mungkar, dsb adalah sumber perselisihan? (hadits palsu sesungguhnya bukan hadits, dan bathillah orang yg mengatakan “walau palsu kan hadits juga!” Kita jawab, “maukah bapak/ibu  kami beri uang palsu? Walau palsu kan uang juga?”) Kecerobohan dalam berdalil, membawakan ‘hadits-hadits’ palsu, mungkar, dsb adalah salah satu sumber perselisihan, karena hadits yang shahih TIDAK AKAN BERTENTANGAN DENGAN AL-QUR’AN DAN DENGAN HADITS-HADITS SHAHIH LAINNYA. Tidak ada pertentangan. Tidak ada perselisihan. Tapi kalau yang palsu, dkk, biasanya akan bertentangan.

 

Perhatikanlah ayat yang mulia ini:

 

an-Nisaa': 82

an-Nisaa’: 82

 

 

 

 

 

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Q.S: an-Nisaa: 82)

 

Ayat ini menunjukkan, semua yang datang dari Allah (termasuk yang datang dari Rasul-Nya) tidak akan bertentangan satu sama lain. Tapi tidak demikian dengan hadits yang tidak shahih atau tidak hasan, dia akan menimbulkan silang-sengketa dan percekcokan. Kenapa? Karena bukan datang dari Allah!

 

Maka dari itulah web kami ini membawa misi, “kembalilah kepada al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih. Tidak cukup sampai disitu, tetapi juga sebagaimana yang dipahami oleh generasi awal umat ini (yaitu sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) agar hilanglah segala sengketa dan perselisihan yang tidak produktif, bahkan memecah-belah umat. (ketahuilah, sumber perselisihan lainnya adalah ‘pemahaman’. Haditsnya shahih, namun dipahami dengan serampangan atau sesuai selera dan kepentingan pihak tertentu; karenanya kami juga memberi penekanan kepada masalah pemahaman ini secara bertahap)

 

Kini kita masuk contoh-contoh fungsi-fungsi atau kedudukan hadits atau as-Sunnah berkenaan dengan al-Qur’an:

 

1) As-Sunnah pemerinci, penafsir ayat-ayat yang mujmal (global) dari al-Qur’an

 

Contoh yang paling mudah adalah tentang TATA CARA SHALAT. Al-Qur’an hanya mengeluarkan perintah “dirikanlah shalat”. Adapun caranya, tidak diterangkan, melainkan lewat hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam definisi Ibnu Qoyyim, ini masuk point ke-3: “menetapkan dan membentuk hukum yang tidak terdapat dalam al-Qur’an”).

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

HR Bukhari

 

Kemudian cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mulai dari wudhu, berdiri, mengangkat tangan takbiratul ihram, pandangan mata, posisi kaki, posisi tangan, dst, dijelaskan dalam berbagai hadits dan riwayat para sahabat yang melihat langsung shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Demikian pula bagaimana tata cara makmum masbuq, kapankah seseorang yang masbuq dianggap memperoleh 1 rakaat, dslb.

 

Contoh lain adalah tata cara ibadah haji.

 

Al-Qur’an memerintahkan ibadah haji:

 

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imron: 97).

 

Ayat ini adalah dalil tentang wajibnya haji. Kalimat dalam ayat tersebut menggunakan kalimat perintah yang berarti wajib.

 

Namun tata cara pelaksanaan haji tidak dijelaskan, melainkan di dalam sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dasar hukumnya:

 

“Ambillah dariku tata cara manasik haji kamu sekalian.”

HR Muslim, Abu Dawud, dll.

 

2) As-Sunnah memberikan taqyiid (batasan) kemutlakan ayat al-Qur’an

 

Misal:

 

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S: al-Maaidah: 38)

 

Ayat ini tidak menjelaskan sampai dimanakah batas tangan yang harus dipotong. Tapi dari as-Sunnah-lah didapat penjelasannya, yaitu sampai pergelangan tangan. (Subulus Salaam IV/151-152).

 

Di sini as-Sunnah berfungsi sebagai pembatas kemutlakan suatu ayat al-Qur’an.

 

3) As-Sunnah memberikan takhshiish (pengkhususan) terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang mutlak dan ‘aam.

 

Misalnya tentang hukum waris:

 

” Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan…” (Q.S: an-Nisaa’: 11)

 

Ayat ini ditakhshiish oleh as-Sunnah sbb:

 

> Tidak boleh orang tua kafir mewariskan kepada anak yang muslim atau sebaliknya (HR Bukhari, Muslim)

 

> Pembunuh tidak mewariskan apa-apa (HR Tirmidzi, shahih)

 

4) As-Sunnah menetapkan hukum yang tidak terdapat di dalam al-Qur’an:

 

Walau point dari Ibnu Qoyyim rahimahullah ini sudah kita sebutkan di point pertama, tidak ada salahnya kita ulang kembali karena pentingnya. Misalnya masalah makanan haram yang ditetapkan pada ayat:

 

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al Maidah: 3)

 

Bangkai adalah haram dari ayat di atas, demikian pula darah. Tapi bangkai ikan dan belalang halal berdasar sunnah:

 

“Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.” (HR. Ibnu Majah no. 3218. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

 

Kemudian keledai peliharaan juga haram berdasarkan as-Sunnah, walau pada ayat di atas hanya daging babi saja yang disebutkan haram.

 

“Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata, “Daging keledai telah banyak di konsumsi. ” Selang beberapa saat orang tersebut datang lagi sambil berkata, “Daging keledai telah banyak di konsumsi.” Setelah beberapa saat orang tersebut datang lagi seraya berkata, “Keledai telah binasa.” Maka beliau memerintahkan seseorang untuk menyeru di tengah-tengah manusia, sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian mengkonsumsi daging keledai jinak, karena daging itu najis.” Oleh karena itu, mereka menumpahkan periuk yang di gunakan untuk memasak daging tersebut.” (HR. Bukhari no. 5528 dan Muslim no. 1940)

 

Daging kucing, harimau, serigala dan hewan-hewan buas bertaring lainnya juga haram berdasarkan as-Sunnah, walau pada al-Qur’an tidak disebutkan.

 

“Setiap binatang buas yang bertaring, maka memakannya adalah haram.” (HR. Muslim no. 1933)

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring, dan setiap jenis burung yang mempunyai kuku untuk mencengkeram.” (HR. Muslim)

 

Dua buah artikel bagus mengenai makanan-makanan haram:
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/panduan-makanan-3-makanan-yang-diharamkan-dalam-hadits-nabawi.html
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/panduan-makanan-2-makanan-yang-diharamkan-dalam-al-quran.html

 

As-Sunnah juga menetapkan haramnya laki-laki mengenakan kain sutera, juga perhiasan emas dan hal ini tidak ditetapkan di dalam al-Qur’an.

 

“Barangsiapa yang memakai kain sutera di dunia maka ia tidak akan memakainya nanti di akhirat.” (HR. Bukhari Muslim)

 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang cincin emas (bagi laki-laki)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

 

“Emas dan sutra dihalalkan bagi para wanita dari ummatku, namun diharamkan bagi para pria’.” (HR. An Nasai no. 5148 dan Ahmad 4/392. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits inishahih)

 

Bahkan ketika qashar shalat diturunkan hukumnya oleh Allah (Q.S: Annisa: 101), lalu Umar bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengapa ketika sudah dalam keadaan aman, tidak takut diserang lagi (pen: namun masih dalam safar) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih tetap melakukan qashar shalat? Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab itu sebagai sedekah dari Allah bagi kalian (HR Muslim). Ini semua merupakan hukum-hukum yang dijelaskan di dalam as-sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak di dalam al-Qur’an.

 

Kita lihat, agama Islam tidak akan sempurna tanpa as-Sunnah. Tanpa as-Sunnah kita tidak akan dapat memahami dan menjalani agama ini dengan sempurna. Minimal dengan baik. Kita tidak akan dapat masuk Islam secara kaffah.

al-Baqarah: 208

al-Baqarah: 208

 

 

 

 

 

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semuanya kedalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu.” (QS: al-Baqarah:208)

 

Tapi ini bukan pula berarti sebaliknya; bahwa al-Qur’an itu tidak sempurna. Bukan. Karena perintah untuk mengikuti as-sunnah justru ada di dalam al-Qur’an. Allah memerintahkan kita untuk taat pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam ayat pembuka dan juga link artikel di awal. Artinya, al-Qur’an dan as-Sunnah tidak dapat dipisahkan. Dan Allah Maha Bijaksana, mengapa sebagian hukum-hukum Islam terdapat di dalam as-sunnah.

 

Allah SWT berfirman:

 

“agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka” (Q.S: an-Nahl: 44)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah Allah untuk MENERANGKAN apa yang telah diturunkan, yaitu al-Qur’an.

 

“Orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.”(Q.S: Ali Imran: 7)

 

Baik al-Qur’an mapupun as-sunnah semuanya dari sisi Allah SWT.

 

Demikianlah fungsi-fungsi dari hadits atau as-Sunnah itu khususnya dalam kaitannya dengan al-Qur’an. Alhamdulillah, demikianlah pembahasan singkat ini. Semoga Allah selalu melimpahkan taufik dan hidayahnya kepada kita dan mengaruniakan ilmu yang bermanfaat kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

(Visited 16,044 times, 30 visits today)

Related posts: