Konsekuensi Kalimat “Laailahaillallaah” (2)

-Kaum Musyrik Quraisy Paham Konsekuensi Kalimat Tauhid

Tulisan ini adalah bagian dari “Tauhid Series” yang merupakan lanjutan dari tulisan pertama Konsekuensi Kalimat “Laailahaillallaah” (1)
 

Kebanyakan org mengetahui kalimat tauhid laailaahaillallaah, namun tidak memahami maknanya, bahkan konsekuensinya (tahu & paham adalah dua hal yang berbeda; org yang tahu belum tentu paham).

Orang-orang musyrik Quraisy dulu paham, jika mereka masuk Islam, maka mereka harus meninggalkan tuhan-tuhan mereka yang lain selain Allah & hanya menyembah Allah saja. Hal ini sebagai konsekuensi kalimat tauhid laailaahaillallaah. Mereka enggan masuk Islam karena tidak mau meninggalkan sesembahan-sesembahan mereka yang selain Allah. Sementara sebagian orang saat ini,  mengaku Islam, namun tidak mau meninggalkan sesembahan-sesembahan mereka selain Allah. Padahal Allah hanya menerima agama yang bersih dari syirik.

al Bayyinah: 5

al Bayyinah: 5

” Padahal mereka tidak disuruh menyembah KECUALI kepada Allah dgn MEMURNIKAN ketaatan kpd Nya dalam (menjalankan) agama…” (Q.S al Bayyinah:5) 

al Hajj: 31

al Hajj: 31

“(Beribadahlah)  dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Q.S: al Hajj: 31) 

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita cek pemahaman kita terhadap kalimat “laailaahaillallaah” yang telah dijelaskan pada Bagian 1. Sehingga kita dapat memahami sepenuhnya pembahasan ini dengan baik.

Konsekuensi kalimat “laailaahaillallaah” adalah penafikan bahwa tidak ada sesembahan lain selain Allah & penetapan bahwa hanya Allah yg patut disembah.

Orang-orang musyrik Quraisy dulu paham, jika mereka masuk Islam, maka mereka harus meninggalkan tuhan-tuhan mereka yang lain selain Allah & hanya menyembah Allah saja. Dan mereka enggan hanya menyembah Allah saja. Hal ini diabadikan Allah dalam firman-Nya:
Q.S: Shaad: 5

Q.S: Shaad: 5

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Q.S: Shaad: 5)

Saat itu, mereka menyembah Allah, tapi menyembah yang lain-lain selain Allah juga. Sebagaimana termaktub dalam gugusan ayat berikut:

“Maka apakah patut kamu (org2 musyrik) menganggap al-lata dan al-uzza. Dan manat, yg ketiga yg paling kemudian (sbg anak perempuan Allah). Apakah pantas utk kamu yg laki2 & untkNya yg perempuan?…Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu & nenek moyangmu mengada-ngadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apapun untuk (menyembah)nya. Mereka hanya mengikuti dugaan & apa yang diingini oleh keinginannya…”

(QS: an-najm: 19-21, 23)

Lata, Uzza dan Manat adalah diantara nama berhala-berhala kaum musyrik Quraisy. Manat mereka peruntukkan untuk Allah. Sehingga mereka mencampur-adukkan yang haq dengan yang batil.

“…Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami…”

(al-An’aam: 136)

Adapun kaum musyrik Quraisy pada dasarnya sebenarnya adalah pengikut agama Ibrahim & Ismail. Namun dalam perjalanan waktu muncullah bid’ah-bid’ah dalam agama mereka (sesuatu yg diada-adakan). Sebagaimana firman Allah diatas, “…Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu & nenek moyangmu mengada-ngadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apapun untuk (menyembah)nya…”  Sesuatu yg tidak pernah diajarkan oleh Nabi Ibrahim yg hanif & Ismail as. 

Orang yang Pertama Merubah Agama Nabi Ibrahim

Ibn Katsir menulis di kitabnya:

 

“’Amr bin Luhay bin Qama’ah, salah seorang pemimpin Khuza’ah yang memegang kekuasaan atas Ka’bah setelah kabilah Jurhum [pen: kabilahnya istri Nabi Ismail as).

Ia adalah orang yang pertama kali mengubah agama Ibrahim.

Ia memasukan berhala-berhala ke Hijaz, lalu menyeru beberapa orang jahil untuk menyembah berhala-berhala itu dan bertaqarrub dengannya dan ia membuat beberapa ketentuan ini bagi mereka yang berkenaan dengan binatang ternak dan lainnya.

 

Allah SWT pun menceritakan, apa yang mereka perbuat:

al-Anaam: 136

al-Anaam: 136

“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.” Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka[508]. Amat buruklah ketetapan mereka itu”. (al-Anaam: 136)

 [508]. Menurut yang diriwayatkan bahwa hasil tanaman dan binatang ternak yang mereka peruntukkan bagi Allah, mereka pergunakan untuk memberi makanan orang-orang fakir, orang-orang miskin, dan berbagai amal sosial, dan yang diperuntukkan bagi berhala-berhala diberikan kepada penjaga berhala itu. Apa yang disediakan untuk berhala-berhala tidak dapat diberikan kepada fakir miskin, dan amal sosial sedang sebahagian yang disediakan untuk Allah (fakir miskin dan amal sosial) dapat diberikan kepada berhala-berhala itu. Kebiasaan yang seperti ini amat dikutuk Allah.

Demikianlah kaum musyrik Quraisy telah berhasil membuat bid’ah-bid’ah, menetapkan sesuatu yang tidak Allah tetapkan, namun mereka nisbatkan kepada Allah. Mereka pun merubah agama Nabi Ibrahim dan Ismail yang lurus. Agama tauhid, yaitu agama Islam menjadi agama kesyirikan. Dan karenanyalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus:

Q.S: Yaasin: 6

Q.S: Yaasin: 6

“Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.”

(Q.S: Yaasin: 6)

Demikianlah kaum musyrik Quraisy telah berhasil membuat bid’ah-bid’ah, menetapkan sesuatu yang tidak Allah tetapkan, namun mereka nisbatkan kepada Allah.“…Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu & nenek moyangmu mengada-ngadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apapun untuk (menyembah)nya…” Mereka pun merubah agama Nabi Ibrahim dan Ismail yang lurus. Agama tauhid, yaitu agama Islam menjadi agama kesyirikan.

Karena kalimat laailaahaillallaah berkonsekuensi meninggalkan sesembahan-sesembahan, peribadatan-peribadatan kepada selain Allah.

Konsekuensi kalimat “laailaahaillallaah” adalah penafikan bahwa tidak ada sesembahan lain selain Allah & penetapan bahwa hanya Allah yg patut disembah & diibadahi dengan benar.

 Perbandingan Antara Kaum Musyrik Quraisy dengan Sebagian Kaum Muslimin Saat Ini

Mari kita lihat ringkasan azbabun nuzul Surat Shad: 5 di atas (“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”) sebagai berikut:

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mulai berbicara & berkata:

Wahai pamanku (Abu Jahal & Abu Thalib; penulis), AKU HANYA MENGHENDAKI AGAR MEREKA BERADADALAM 1 KALIMAT utk mereka ucapkan yg menyebabkan org Arab tunduk kepada mereka dan orang ‘ajam (non Arab) membayar jizyah kepada mereka.”

Mereka pun kaget dengan kata-kata dan ucapannya. Maka, merekapun berkata,

“Baiklah kalau hanya 1 kalimat. Demi bapakmu, bahkan 10 kalimat!”

Lalu mereka mengatakan, “Apakah 1 kalimat itu?”

Abu Thalib berkata, “Kalimat apakah itu wahai anak saudaraku?”

Rasulullah menjawab: “LAA ILAA HA ILLALLAAH”

Maka mereka BERDIRI & KAGET sambil mengibaskan pakaian mereka dan berkata:

“MENGAPA IA MENJADIKAN ILAH-ILAH ITU ILAH YANG SATU SAJA? SESUNGGUHNYA INI BENAR-BENAR SUATU HAL YANG SANGAT MENGHERANKAN.”

Dia berkata: “Dan diturunkanlah mulai dari ayat ini hingga firmannya: “Dan sebenarnya mereka belum merasakan adzabKu.”

(HR AHMAD, TIRMIDZI, AN-NASA’I & IBNU ABI HATIM dariIbnu Abbas)

Tirmidzi berkata: “Hadist hasan”

Hadis diatas berkenaan dengan azbabun nuzul Surat Shad:: 5 bahwa orang-orang musyrik Quraisy emoh mengucapkan kalimat tauhid karena tahu konsekuensinya, yaitu harus meninggalkan peribadatan-peribadatan kepada selain Allah (“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”, Q.S: Shad: 5)

Maka, bagaimana kalau kini kita bandingkan dengan perbuatan sebagian kaum muslimin di zaman sekarang?

  • Mengaku beragama Islam, shalat, namun datang ke kuburan, bukan untuk berziarah mengingat kematian & mendoakan yang dikubur sebagaimana yang disabdakan dan dicontohkan Rasulullah, tapi malah meminta atau bertawasul kepada penghuni kubur. Mereka berargumen bahwa orang mati tersebut hanyalah perantara saja kepada Allah. Mereka tidak menyembah orang mati tersebut. Orang-orang musyrik terdahulu juga ketika disuruh meninggalkan sesembahannya berupa berhala-berhala, mereka mengatakan hal yang sama: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (Q.S Az Zumar: 3). Terdapat keserupaan perbuatan antara musyrik Quraisy dengan perbuatan sebagian kaum Muslimin zaman sekarang. Mereka juga menyampaikan argumen yang sama: menjadikan berhala-berhala atau penghuni kuburan sebagai PERANTARA kepada Allah. Sedangkan Allah mengkategorikan perbuatan itu sebagai kekufuran. Jika orang Islam melakukan hal ini dengan sadar atas konsekuensinya, ia bisa keluar dari Islam. Baik patung maupun orang mati, sama-sama tidak dapat memberi manfaat maupun mendatangkan mudharat (in sya Allah akan kami angkat artikel tentang definisi berhala). Dan Allah telah mengabadikan perkataan orang-orang musyrik ini ke dalam al-Qur’an karena Allah mengetahui bahwa dikemudian hari akan ada manusia-manusia yang terjerumus ke dalam perbuatan yang sama. Terbukti, hal ini telah terjadi sejak zaman Nuh as. Lihat S. Nuh: 23 berikut tafsirnya. Kemudian terus terjadi pada orang-orang Arab jahiliyah, dan seterusnya hingga kini dan yang akan datang. Bertawasul melalui sesuatu yang tidak berdaya adalah haram (adapun bertawasul yang diperbolehkan adalah meminta didoakan kepada orang yang masih hidup, karena dia bisa mengangkat tangannya dan berdoa, sebagaimana yang terjadi di zaman sahabat, yaitu Umar bin Khaththab bertawasul melalui paman Rasulullah, al Abbas yang masih hidup agar berdoa kepada Allah. Tawasul lain yang dibolehkan juga adalah tawasul dengan amal-amal soleh kita, sebagaimana kisah Ashhaabul Kahfi). Demikian tawasul-tawasul yang diperbolehkan yang ditunjukkan oleh dalil-dalil.
  • Contoh berikut. Sebagian kaum muslimin pada masa-masa sekarang juga melakukan sejumlah ritual seperti larung sesaji di laut selatan. Atau sedekah bumi untuk panen di darat, sebagai wujud syukur kepada hasil panen (nama bisa saja beda-beda di setiap daerah, tapi esensi perbuatannya sama). Padahal mereka tahu Allah-lah yang memberi rizki, dst. Tapi mengapa mereka berterimakasih kepada selain Allah?? Allah telah menyiapkan ayat Nya:

 

Q.S: al Baqarah: 22

Q.S: al Baqarah: 22

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”

(Q.S. Al Baqarah: 22)

 Sekali lagi, Allah telah menyiapkan peringatan Nya, karena Dia mengetahui, perbuatan ini akan terjadi lagi. Dan ini  kini terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Mereka mengetahui Allah yang memberi rizki, namun berterima kasih tidak (hanya) kepada Allah SWT saja, namun kepada sesuatu yang tidak jelas dan tidak kuasa memberi rizki atau hasil panen. Hal ini perbuatan syirik besar, apalagi dengan membuat ritual, lalu menyembelih hewan untuk penunggu Laut Selatan, dan sebagainya. Ini menandakan bahwa mereka tidak meninggalkan peribadatan kepada selain Allah. Bahkan memalingkan ibadah kepada selain Allah.

Bedanya dengan kaum musyrik Quraisy, sebagian kaum Muslimin saat ini menganggap perbuatan ini sebagai bagian dari agama Islam. Kadang perbuatan syirik dibungkus dengan sejumlah bacaan-bacaan al-Qur’an, mendatangkan tokoh agama, dan sebagainya. Sedangkan musyrik Quraisy tidak masuk Islam karena tidak mau meninggalan peribadatan kepada selain Allah. Ayat lain yang berbicara mengenai hal yang serupa:

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). “

(Q.S. Yusuf: 106)

Ibnu Abbas (ahli tafsir dari kalangan sahabat yang dijuluki “permata al-Qur’an”) berkata:

 

“Diantara iman mereka adalah apabila mereka ditanya: ‘Siapakah yang menciptakan langit, siapakah yang menciptakan bumi, siapakah yang menciptakan gunung-gunung itu?’ Mereka pasti menjawab:Allah’.

Sedangkan mereka tetap menyekutukan (syirik) kepada Allah.

(Tafsir Ibn Katsir Surat Yusuf: 106)

Kuncinya ada pada frase: “padahal kamu mengetahui”. Sebenarnya mereka mengetahui bahwa Allah yang menciptakan bumi dan langit. Allah yang menurunkan air hujan, menumbuhkan berbagai macam buah-buahan. Dan Allah lah yang memberi rizki. Sebagaimana Allah ungkapkan dalam surat al-Mu’minuun:

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”

Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”

Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?”

Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”

Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”

Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?

(Q.S: al-Mu’minuun: 84-89)

Sejatinya orang yang melakukan kesyirikan adalah tertipu. Sebab bagaimana mungkin ia bisa dipalingkan dari beribadah (dengan ikhlas) kepada Allah? Padahal Allah yang menciptakan diri mereka dan seluruh jagad raya ini?

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Q.S: al Hajj: 31)

Sungguh ironis. Sebagian kaum Muslimin zaman sekarang telah melakukan apa yang DULU dilakukan orang-orang musyrik zaman jahiliyah. Mungkin ini karena kejahilan mereka terhadap ilmu agama, khususnya terhadap ilmu tauhid. Bahkan arti dan konsekuensi kalimat LAA ILAA HA ILLALLAAH saja mereka tidak paham (mereka tahu kalimat tersebut, tetapi tidak paham arti dan konsekuensinya). Padahal bangsa Arab jahiliyah, kaum musyrik Quraisy saja tahu konsekuensi kalimat tersebut!

Karenanya kami mengajak segenap kaum Muslimin untuk memperdalam kembali pemahaman mereka terhadap tauhid. Asas dasar seorang Muslim. Modal dasar seorang manusia untuk menjejakkan kakinya di surga kelak.

Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku.” Kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (Zumar: 38)

(Fadil. Aziz).
(Visited 653 times, 4 visits today)

Related posts: