“Mereka menjawab, “Sama saja bagi kami, apakah engkau memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah ADAT KEBIASAAN orang-orang terdahulu dan kami tdk akan diazab” (Q.S: asy-Syuara: 136-138)

 
Gugusan ayat di atas mengisahkan dialog antara Nabi Hud as dengan kaumnya, ‘Ad. Ketika didakwahi, mereka menjawab bahwa apa yg mereka lakukan sudah benar, karena mengikuti nenek-moyang mereka. Dan ini merupakan tabiat manusia sejak dahulu, mengikuti leluhur secara taqlid buta, mau benar atau salah, diikuti. Bahkan walau sudah ada yang memberi peringatan bahwa apa yang mereka ikuti itu salah, mereka tetap mengikutinya.
 
Karena hal ini sering terulang, Allah banyak menurunkan ayat yang sejenis dengan ayat di atas di dalam al-Qur’an sebagai peringatan bagi umat ini.
al baqarah 170

al baqarah 170

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak!) kami mengikuti apa yang kami dapati pada NENEK-MOYANG kami (melakukannya),” padahal nenek-moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan TIDAK mendapat petunjuk.” (Q.S: al-Baqarah: 170).

al Maaidah 104

al Maaidah 104

 

“Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah kalian (mengikuti) kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati BAPAK-BAPAK kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah: 104).

 
Karenanya, Islam melarang seseorang taqlid buta, apakah kepada adat-istiadat nenek-moyang, atau yang lainnya. Seseorang diperintahkan untuk mengikuti, taat dan taqlid buta kepada apa yang diturunkan Allah & Rasul-Nya. Bukan kepada selainnya.
 
“Pada hari ketika wajah-wajah mereka dibolak-balikkan di dalam neraka, mereka berkata, aduhai, seandainya dulu kita mentaati Allah dan Rasul. Mereka berkata, wahai Rabb kami, sesungguhnya kami (dahulu) mentaati tokoh-tokoh dan pembesar-pembesar kami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang lurus), wahai Rabb kami, berikanlah kepada mereka siksaan dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar” (QS. Al-Ahzaab: 66-68).
 

Asy-Syaukani berkata, “Yang dimaksud dengan tokoh-tokoh dan pembesar-pembesar adalah para pemimpin yang dipatuhi perintahnya di dunia dan diteladani. Dan di dalam firman Allah ini terdapat larangan keras atas taqlid buta. Alangkah banyaknya peringatan-peringatan di dalam al-Qur’an terhadap taqlid buta.”

Taqlid buta adalah SALAH SATU PENGHALANG HIDAYAH. Ketika hidayah datang menyapa. Ketika para nabi dan rasul datang menyampaikan wahyu-wahyu, banyak manusia yang menolaknya. Menolak dakwah para nabi dan rasul itu. Menolak wahyu-wahyu yang didakwahkan. Hal itu seringkali terjadi karena taqlid buta kepada adat-istiadat, kebiasaan-kebiasaan nenek-moyang dan leluhur mereka turun-temurun, atau kepada manusia-manusia, atau pemimpin-pemimpin. Lihatlah apa yang dikatakan kaum ‘Ad di atas kepada Nabi Hud as. Lihatlah apa yang dikatakan oleh kaumnya Nabi Ibrahim as dan para tokoh mereka. Bahkan lebih awal lagi, lihatlah mengapa kaum Nabi Nuh as, bersama pembesar-pembesar kaumnya menolak dakwah sang rasul pertama di muka bumi ini pada firman Allah berikut:

Nuh 23

Nuh 23

 

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr” (Q.S Nuh: 23).

 

Mereka melarang masyarakatnya meninggalkan tuhan-tuhan yang sudah biasa mereka sembah. Siapakah ‘mereka’ itu? Sudah merupakan tradisi, yang melarang biasanya adalah orang yang memiliki pengaruh. Biasanya para pemuka atau tokoh-tokoh masyarakat. Apa yang mereka larang? Mereka melarang kaumnya meninggalkan sesembahan-sesembahan mereka. Kata “meninggalkan” menunjukkan hal ini telah dilakukan / telah berlangsung sejak lama sebagaimana hadist di dalam Shahih Bukhari tentang ayat 23 Surat Nuh ini yang menyiratkan hal tersebut telah berlangsung lama.

Belum lagi kita lihat taqlid butanya kaum musyrik Quraisy di Mekkah, sampai-sampai paman Rasulullah shalallaahu alaihi wassalam, yaitu Abu Thalib tetap meninggal di atas agama nenek moyang mereka atas bujukan Abu Jahal sesaat sebelum Abu Thalib meninggal.

”Hai abu Tholib! Bencikah anda kepada agama Abdul Mutholib?”,

demikian Abu Jahal hingga akhirnya Abu Thalib mati di atas agama nenek moyang mereka. Menolak syiar Islam yang dibawa oleh keponakannya yang tersayang, Muhammad bin Abdillah.

Jadi alangkah banyaknya kisah-kisah kebinasaan orang-orang yang taqlid buta kepada sesuatu yang salah.

Ayat-ayat al-Qur’an yang mencela taqlid buta kepada tradisi nenek-moyang juga menunjukkan bahwa TRADISI LELUHUR, atau TRADISI NENEK-MOYANG BUKANLAH HUJJAH. Apa yang dibawa oleh para nabi dan rasul-lah yang merupakan hujjah. Betapa indahnya perkataan Imam Asy-Syaukani, “alangkah banyaknya peringatan-peringatan di dalam al-Qur’an terhadap taqlid buta.”

Banyaknya peringatan tentang taqlid buta di dalam al-Qur’an menunjukkan bahwa hal ini adalah sesuatu yang sangat berbahaya dan harus dijauhi. Semoga kita mau menggapai hidayah sehingga selamat dunia dan akhirat, bukan termasuk orang yang menolak hidayah dan berkata:

“Sama saja bagi kami, apakah engkau memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah ADAT KEBIASAAN orang-orang terdahulu dan kami tdk akan diazab” (Q.S: asy-Syuara: 136-138)

(Visited 17,718 times, 38 visits today)

Related posts: