Sesungguhnya perkataan manusia akan menjadi doa dan diaminkan oleh para malaikat. Maka, berhati-hatilah dalam berkata-kata.
 
Hal ini telah disiratkan di dalam al-Qur’an, ketika mengisahkan Yusuf as.
 
“Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka…” (Q.S: Yusuf: 33)
 
“Maka Rabb memperkenankan doa Yusuf…” (Q.S: Yusuf: 34)
 
Lalu terjadilah sebab-sebabnya dengan kehendak Allah:
 
“Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai suatu waktu (Q.S: Yusuf: 35)
 
Maka dipenjaralah Nabi Yusuf as selama beberapa waktu yang ternyata itu memberikannya hikmah luar biasa (menjadi orang kepercayaan raja dan menjadi penguasa di Mesir; lihat kisahnya di Surat Yusuf).
 
Sudah banyak sekali terbukti bahwa perkataan akan terwujud, karena dia menjadi doa. Ketika diucapkan, pas diaminkan oleh para malaikat, pas waktu yang mustajab, dan sebagainya, dengan kehendak Allah, maka perkataan itu menjadi terwujud. Bagaimana jika perkataan itu kurang baik?
 
Dari 3 ayat tersebut juga tampak jelas proses/urut-urutan terjadinya sesuatu tsb:
 
1) Perkataan manusia
2) Allah memperkenankan
3) Terjadilah sebab-sebabnya yg akan menjadikan hal itu terwujud.
 
Kadangkala manusia hanya memperhatikan poin ke-3 saja. Sebab-sebabnya saja. Seolah-olah tidak ada campur tangan Allah dalam kejadian tsb. Padahal ada faktor-faktor lain yang mendahuluinya. Hal inilah yang menjadikan manusia kufur, bahkan mengingkari keberadaan Allah. Demikian juga orang yg menjadikan ilmu pengetahuan sebagai agamanya, atau logika sebagai tuhannya. Mereka hanya melihat apa-apa yang zhahir saja, tidak dapat melihat dengan hikmah dan dengan ilmu, dengan bashirah.
 
Allah ketika menjadikan sesuatu, Ia akan menurunkan/mendatangkan sebab-sebabnya. Misal, ketika Maryam hendak melahirkan Nabi Isa as, maka Allah menyuruh:
 
“Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu kearahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu (Q.S: Maryam: 25)
 
Allah Maha Berkuasa untuk memudahkan proses kelahiran Nabi Isa as, atau utk memberi Maryam makanan pada saat itu, namun Allah ingin ada sebab, ada usaha dari diri Maryam, yaitu menggoyangkan pangkal pohon kurma. Ketika seseorang sakit, Allah menurunkan obatnya yang harus manusia minum, cari, bahkan teliti, walau kadang Allah menyembuhkannya secara langsung seperti mukjizat.
 
Demikianlah, banyak sekali hikmah dan pengetahuan dari al-Qur’an, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
(Visited 3,335 times, 4 visits today)

Related posts: