Syi’ah dan Ingkar Sunnah

Sebagaimana kita ketahui, paham Syi’ah belakangan ini marak dibicarakan. Di Indonesia topik tentang Syi’ah selalu hangat dibicarakan, walau paham ini sebenarnya bukan paham baru, melainkan telah mulai berkembang sejak zaman Khalifah Ali bin Abi Thallib. Imam Syafii pun telah berfatwa, “jangan engkau shalat di belakang rafidhi”. Namun pergerakannya di Indonesia belakangan cukup agresif, baik di akar rumput sosial, maupun di tingkat elit politik sehingga meresahkan. Karenanya dibutuhkan dakwah dan pencerahan kepada masyarakat berkaitan kesesatan paham Syi’ah atau Syi’ah Rafidhah yang masuk ke Indonesia ini (Syi’ah yang ada saat ini adalah jenis Rafidhah).

 

Paham Syi’ah ini memiliki ajaran-ajaran yang menyimpang, diantaranya mengkafirkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali segelintir yang dikategorikan “ahlul bait” menurut mereka, atau keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Salman al Farisi yang berasal dari Persia (keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak dikafirkan hanya Ali bin Abi Thallib, Fatimah, Hasan dan Husen). Selebihnya, Abu Bakar, Umar, Aisyah mereka vonis murtad sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syi’ah (Rafidhah yang ada sekarang ini) juga TIDAK mempercayai al-Qur’an yang kita pegang saat ini, karena menurut mereka al-Qur’an kita saat ini telah dirubah-rubah oleh para sahabat. Ini semua adalah perkataan dusta.

 

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dll).

Adapun kaum yang disebut “Ingkar Sunnah”, atau “Inkar Sunnah” sebagaimana namanya, mengingkari as-sunnah. Mereka hanya menggunakan al-Qur’an saja. Menolak hadist-hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Persis sebagaimana yang disabdakan beliau:

 

“Jangan sampai aku dapati seseorang diantara kalian yang duduk bersandar di sofanya lalu datang kepadanya urusan (perkara) dari urusanku dari apa-apa yang aku perintah dan aku larang, lalu ia berkata, ‘Kami tidak mengetahuinya. Apa yang kami dapati dalam Kitabullah, itulah yang kami ikuti (dan yang tidak terdapat dalam Kitabullah kami tidak ikuti).” 

HR Ahmad VI/8, Abu Dawud #4605, at-Tirmidzi #2663, dll, Lafazh ini milik Abu Dawud, shahih.

“Ketahuilah sesungguhnya aku diberikan  Al-Kitab (al-Qur’an) dan yang seperti al-Qur’an bersamanya. Ketahuilah, nanti akan ada orang yang kenyang di atas sofanya sambil berkata, ‘Cukuplah bagimu untuk berpegang dengan al-Qur’an (saja), apa-apa yang kalian dapati hukum halal di dalamnya, maka halalkanlah dan apa-apa yang kailan dapati hukum haram di dalamnya, maka haramkanlah.’ (Ketahuilah) sesungguhnya apa-apa yang diharamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam SAMA seperti yang diharamkan Allah, ketahuilah tidak halal bagi kalian keledai negeri (keledai piaraan) dan tiap-tiap yang bertaring dari binatang buas dan tidak halal pula barang pungutan (kafir) mu’ahad kecuali bila pemiliknya tidak memerlukannya dan barangsiapa yang singgah di suatu kaum, maka wajib atas mereka menghormatinya. Bila mereka tidak menghormatinya, maka wajib baginya menggantikan yang serupa dengan penghormatan itu.”

HR Abu Dawud #4604, Ibnu Majah #12, Ahmad IV/131, dll. shahih.

 

Bantahan Terhadap Syi’ah dan Kaum Ingkar Sunnah Berdasar Sejarah Pengumpulan al-Qur’an

Sebenarnya sudah tak terhitung bantahan yang diberikan terhadap syubhat-syubhat Syi’ah. Demikian pula terhadap pemahaman yang menolak Sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun kami ingin mengambil sedikit bagian dalam dakwah ini dari sisi sejarah pengumpulan al-Qur’an. Mengapa? Karena al-Qur’an DIRIWAYATKAN dari para sahabat. Al Qur’an tidak diturunkan serta-merta sekaligus satu kitab. Tidak. Melainkan berangsur-angsur. Kemudian dicatat, disimpan dan dihafal di dada-dada manusia (para sahabat waktu itu). Kemudian dikumpulkan menjadi satu kitab setelah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Untuk menyingkat pembahasan, silahkan lihat Sejarah Pengumpulan al-Qur’an.

 

Kenyataan bahwa al-Qur’an sampai kepada kita melalui periwayatan dari para sahabat setelah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, memberi implikasi:

 

Kepada Syi’ah

Bahwa dengan mengkafirkan sahabat, berarti MENOLAK AL QUR’AN YANG ADA SEKARANG INI. Karena al-Qur’an sampai kepada kita melalui periwayatan para sahabat. Bagaimana mungkin al-Qur’an diriwayatkan oleh orang yang murtad lagi kafir, sebagaimana tuduhan orang-orang Syi’ah?? Al-Qur’an, berdasarkan hadist-hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab shahihnya dikumpulkan berdasar perintah Khalifah Abu Bakar atas dorongan Umar bin Khaththab. Sedangkan kedua orang  sahabat ini adalah yang paling dibenci oleh Syi’ah. Dan hampir semua sahabat kecuali yang telah disebutkan, dikafirkan. Jadi, implikasi mengkafirkan sahabat adalah tidak diterimanya al-Qur’an yang sampai pada kita saat ini. Dan ini sangat tidak masuk akal, apalagi secara dalil sangat tidak bisa diterima. Bukankah Allah telah berfirman:

 

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S: al-Hijr: 9)

Apakah mungkin Allah alpa, lupa, lalai dari menjaga al-Qur’an?? Atau menyalahi janji-Nya??? Sangat tidak mungkin! Sedangkan sunnah-sunnah Nabi-Nya saja terjaga dari pemalsu-pemalsu hadist, dari orang-orang yang mengaku nabi setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi Kitab-Nya! Pasti Allah jaga.

 

Karenanya, kenyataan bahwa al-Qur’an sampai kepada kita melalui periwayatan para sahabat merupakan bantahan yang sangat kuat lagi keras terhadap aqidah Syi’ah (Rafidhah) yang mengkafirkan para sahabat kecuali segilintir saja dan keyakinan mereka bahwa al-Qur’an yang ada saat ini palsu.

Kepada Kaum Ingkar Sunnah

Sebagaimana telah dibawakan hadistnya di atas, akan ada orang-orang yang terang-terangan menolak sunnah (ada juga yang menolak sebagian dari sunnah, misalnya menolak hadist-hadist ahad dan hanya menerima hadist-hadist mutawatir saja). Mereka hanya mengambil apa yang ada di dalam al-Qur’an. Dan munculnya orang-orang seperti ini telah disabdakanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami pernah berjumpa dengan sejumlah orang dengan keyakinan bathil semacam ini. Allah izinkan kami berdiskusi dengan salah seorang dari mereka selama beberapa bulan lamanya (seorang dosen bahasa Arab di sebuah universitas Islam; Allahu musta’an). Dari diskusi dengan dia, kami mengetahui syubhat yang ada padanya, yaitu mengapa dia hanya mempercayai al-Qur’an saja. Menurutnya:

 

Karena al-Qur’an adalah kalamullah yang otentik. Asli turun dari Allah. Tidak seperti hadist, hanya perkataan manusia.

 

Maka kami katakan, jika Anda menolak sunnah (sebagian ataupun semuanya), berarti dari sisi sejarah pengumpulan al-Qur’an, Anda juga seharusnya TIDAK MEMPERCAYAI AL-QUR’AN. Kenapa? Karena al-Qur’an, sebagaimana juga hadist, sampai kepada kita MELALUI JALUR PERIWAYATAN JUGA. Sama seperti hadist. Maksudnya, dari hafalan dan catatan para sahabat kepada Zaid sang pengumpul al-Qur’an setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Lihat link yang kami berikan di bagian Syi’ah. Maka, mengapa mereka mempercayai al-Qur’an, namun tidak mempercayai hadist? Ini suatu keanehan.

 

Jika mereka mengimani al-Qur’an, seharusnya mereka mengimani as-Sunnah juga. Karena al-Qur’an diriwayatkan dari Lauh Mahfudz, oleh Jibril kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kepada para sahabat, lalu dikumpulkan dan dibukukan, hingga sampai kepada kita sekarang dan yang akan datang. Sama seperti hadist. Disampaikan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat, lalu diriwayatkan kepada tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan seterusnya. Hadist pun dibukukan dalam bentuk kitab-kitab hadist seperti Shahih Bukhari, dan lainnya. Jadi jangan dianggap al-Qur’an itu turun begitu saja dari langit, sementara hadist hanya perkataan-perkataan manusia saja.

 

Tentu kita bisa membantah mereka dari banyak sisi. Misalnya, perintah mengikuti sunnah ada di dalam al-Qur’an itu sendiri. Namun, dari diskusi-diskusi, kami mengetahui bahwa orang tersebut (dan sangat boleh jadi yang lain yang semacam dia juga) tidak mengetahui atau beranggapan bahwa al-Qur’an itu turun secara berangsur-angsur. Menurut pehamamannya, al-Qur’an itu turun sekaligus dalam sekali turun, yaitu pada malam Lailatul Qadr. Terkesan dia baru mengetahui bahwa al-Qur’an itu juga diriwayatkan dan dikumpulkan dari para sahabat. Allahu musta’an. Semoga Allah memberinya hidayah dan juga orang-orang yang semisalnya diantaranya melalui tulisan ini.

 

Sedangkan Taurat yang merupakan firman Allah langsung kepada Musa dan dalam bentuk-bentuk suhuf-suhuf saja dipalsukan, disembunyikan dan dirubah-rubah oleh Bani Israil! Jadi  langsung turun dari langit itu bukan ukuran keshahihan.

Jelas ini merupakan hujjah yang sangat lemah. Dan kita mengetahui bahwa keotentikan al-Qur’an dan as-Sunnah dijaga oleh Allah. Mungkin selama ini kita hanya mengetahui bahwa yang dijaga oleh Allah hanya al-Qur’an saja. Pengetahuan ini kurang lengkap.

 

Penjagaan Allah kepada adz-dzikr yang disebut dalam surat al-Hijr: 9 di atas adalah mencakup juga as-sunnah, bukan hanya al-Qur’an saja. Apalagi, perintah mengikuti as-Sunnah banyak terdapat di dalam al-Qur’an itu sendiri. Ditambah lagi tata cara shalat, zakat, haji, puasa, dan sebagainya terdapat di dalam as-sunnah. Al Qur’an dan as-Sunnah berjalan beriringan dan saling melengkapi dan menguatkan. Bagaimana mungkin Allah hanya menjaga al-Qur’an dan tidak menjaga as-Sunnah? Disamping itu Allah juga berfirman: ““Dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya.” (QS. An-Najm: 3). Apa yang diucapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup al-Qur’an dan as-Sunnah.

 

Perbedaannya dengan al-Qur’an yang mulai dikumpulkan sejak zaman Khalifah Abu Bakar, pengumpulan hadist dalam bentuk kitab memang terjadi belakangan, terjadi setelah pengumpulan al-Qur’an. Misalnya Kitab al Muwatha’ Imam Malik. Kitab hadist yang berisi hadist-hadist shahih baru pertama kali dibuat oleh Imam Bukhari. Namun ilmu hadist dan ilmu sanadnya telah ada sejak zaman para sahabat, bersambung hingga guru-guru Imam Bukhari dan sang imam sendiri. Imam Bukhari tinggal mengumpulkan, menelaah, meneliti dan menyortir. Demikian juga Imam Muslim, murid dari Imam Bukhari. Ahli-ahli hadist belakangan seperti Imam al-Albani menelaah dari kitab-kitab yang telah diwariskan para ulama hadist sebelumnya. Semuanya ada ilmunya, hingga Ibnu Taimiyah pernah berujar, “ilmu sanad adalah bagian dari agama.” Dan ilmu sanad ini tidak kita jumpai di agama-agama sebelumnya seperti Nasrani dan Yahudi. Bayangkan, hingga al-Qur’an pun memiliki sanad!

 

 

Dengan demikian, sebuah faedah besar yang dapat kita tarik dari sejarah bahwa pengumpulan al-Qur’an diambil dari hafalan-hafalan dan catatan-catatan para sahabat adalah, TERTOLAKNYA aqidah Syi’ah dan Ingkar Sunnah. Aqidah Syi’ah tertolak karena mengkafirkan para sahabat (kecuali segelintir), sedangkan al-Qur’an kita ambil dari para sahabat, dan seluruh agama ini juga dibawa oleh para sahabat. Aqidah ingkar sunnah tertolak karena asumsi dasar mereka bahwa al-Qur’an diturunkan secara langsung sekaligus dari langit, tanpa periwayatan adalah keliru besar, sehingga jika mereka mengimani al-Qur’an, mereka harus mengimani as-Sunnah juga. Adapun syubhat-syubhat mereka yang lain juga telah banyak dibantah. Diantaranya di dalam buku bahasa Indonesia yang berjudul: “Kedudukan as-Sunnah dalam Syari’at Islam” yang ditulis Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka at-Taqwa.

 

Semoga Allah memberi taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.

 

Artikel Terkait Pengumpulan al-Qur’an:

Sejarah Pengumpulan al-Qur’an

 

Artikel Terkait as-Sunnah:

 

(Visited 591 times, 2 visits today)

Related posts: