Jika ada masjid terunik di Indonesia, menurut kami dia adalah Masjid Pulau Penyengat. Dari segi arsitektur, masjid ini memiliki empat menara lancip seperti istana-istana abad pertengahan Eropa. Sementara kubah utamanya tidak terlalu mendominasi seperti pada masjid-masjid lain. Sehingga sepintas tak tampak seperti masjid, melainkan memang seperti istana negri dongeng!

***

Namun ketika ke-empat menara dan seluruh kubahnya dijumlahkan, semuanya berjumlah 17 (kubahnya kecil-kecil namun banyak). Tujuh belas adalah bilangan rakaat shalat wajib dalam sehari. Ya, Masjid Penyengat atau Masjid Sultan Riau memang merupakan masjid bersejarah, namun masih dipergunakan oleh masyarakat Pulau Penyengat sehari-hari. Adapun warnanya, tak salah lagi: kuning cerah. Menjadikan masjid ini begitu unik, menonjol dan indah (perlu diketahui, kuning adalah warna kebangsaan atau warna resmi kerajaan-kerajaan Melayu; perhatikan warna Istana Maimun di Medan, dll).

 

Menara Lancip Masjid Raya Pulau Penyengat.

Menara Lancip Masjid Raya Pulau Penyengat. Foto: Fadil Aziz / Alcibbum Photography

Sejarah Masjid Pulau Penyengat

Pertanyaannya, bagaimana bisa masjid yang dibangun sekitar tahun 1830-an ini bisa begitu indah? Apalagi lokasinya terbilang terpencil. Ya bisa, karena pulau ini merupakan pusat sebuah kerajaan Melayu, yang bernama Kesultanan Riau – Lingga. Pemiliknya adalah Engku Puteri Hamidah, seorang ratu berdarah Bugis – Melayu. Engku Puteri Hamidah adalah istri dari Sultan Mahmud, Sultan Johor. Sultan ini menghadiahkan pulau kepada Engku Puteri sebagai mas kawin.

 

Kesultanan Riau – Lingga cukup berjaya, dan konon PULAU TEMASEK termasuk di dalam wilayahnya. Ada yang tahu Pulau Temasek? Temasek sekarang kita kenal dengan nama SINGAPURA. Dulu pulau tersebut merupakan bagian dari Kesultanan Riau – Lingga. Kemudian Stamford Raffles datang (konon kepada Engku Puteri Hamidah) untuk meminta Pulau Temasek dengan sejumlah kompensasi tertentu. Tampaknya Raffles terinspirasi oleh Kerajaan Malaka beberapa abad sebelumnya yang begitu berjaya sebagai pusat perdagangan di Selat Malaka (dugaan kami belaka, namun sangat boleh jadi). Raffles memiliki visi menjadikan Temasek sebagai pusat perdagangan, sama seperti Kerajaan Malaka (Kerajaan Muslim Malaka dihancurkan Portugis tahun 1511 sebagai bagian dari upaya Gold, Gospel & Glory; rempah-rempah merupakan emas hitam kala itu).

 

Masjid Pulau Penyengat, Kepulauan Riau

Salah satu pintu samping. Bangunan masjid masih tampak segar, walau sudah nyaris 2 abad usianya. Foto: Fadil Aziz / Alcibbum Photography

Maka ditandatanganilah perjanjian pengalihan kepemilikan pulau kepada Kerajaan Inggris. Sebagai kompensasi, Kesultanan Riau – Lingga mendapat sejumlah kompensasi. Dengan kemakmuran dan kejayaan kesultanan pada waktu itu, ditambah lagi dengan gotong-royong masyarakat setempat, berdirilah Masjid Pulau Penyengat yang cantik. Bangunan induknya berukuran 29,3 x 19,5 meter. Ketebalan tembok mencapai 50 cm dan konon masjid ini belum pernah dipugar!

 

 

 

Bagian Dalam Masjid Sultan Riau Penyengat

Bagian Dalam Masjid Sultan Riau Penyengat. Foto: Fadil Aziz / Alcibbum Photography

Lokasi Pulau Penyengat

Pulau Penyengat adalah pulau mini. Sangat kecil sehingga jika Anda membuka peta Pulau Sumatera, ia tidak akan tertera disana. Bukan karena peta itu tak lengkap, namun karena ukuran Penyengat yang sangat kecil. Sebenarnya Pulau Penyengat hanya sepelemparan batu saja dari Pulau Bintan. Dari Tanjung Pinang, ibukota Propinsi Kepulauan Riau, upah menyebrang ke pulau saat itu hanya Rp 5.000 saja. Begitu sampai, kita seperti dipindahkan oleh mesin waktu. Karena Penyengat sangat sepi dan lengang. Namun ia telah berperan merubah wajah Singapura dan juga Nusantara (baca cerita selanjutnya).

 

Untuk mencapainya Anda tak harus terbang langsung ke Bintan. Bisa juga Anda terbang ke Batam, kemudian dengan ferry menyeberang ke Tanjung Pinang.  Mudah bukan?

 

Rumah-rumah di Pulau Penyengat.

Rumah-rumah di Pulau Penyengat. Foto: Fadil Aziz / Alcibbum Photography

 

Jika masih penasaran dengan lokasinya, ini koordinat GPSnya:   0°55’46.25″N  ; 104°25’13.13″E

 

Tapi harus diingat, tidak boleh mendatangi tempat ini dengan tujuan menziarahi makam-makam orang tertentu yang ada disana. Atau dengan keyakinan ada keutamaan tertentu untuk shalat di masjid ini. Rasulullah melarang melakukan safar / perjalanan jauh dengan tujuan beribadah kecuali ke tiga tempat.

 

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِى هَذَا وَالْمَسْجِدِ الأَقْصَى

Tidak diikat pelana unta kecuali untuk menuju tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidku ini dan Masjidil Aqsha“.

(HR Bukhari – Muslim)

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata:

“….Lalu aku bertemu dengan Bashrah bin Abi Bashrah Al-Ghifaariy. Ia berkata : “Dari mana engkau?”. Aku menjawab : “Dari bukit Thuur”. Ia berkata : “Seandainya saja aku bertemu denganmu sebelum engkau pergi ke Bukit Thuur, niscaya engkau tidak akan pergi. Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah hewan tunggangan dipersiapkan untuk perjalanan jauh kecuali menuju tiga masjid : Masjid Haraam, masjidku ini (Masjid Nabawiy), dan masjid Iliya’ atau Baitul-Maqdis” [Diriwayatkan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’ no. 243; shahih].

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ، الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh (safar) kecuali menuju tiga masjid: Al-Masjid Haram, Masjid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjid Al-Aqshaa” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1189 dan Muslim no. 3364].

Safar atau perjalanan jauh yang dimaksud adalah safar untuk bertabaruk, mendekatkan diri, atau untuk shalat. Sebagaimana kita ketahui, kunjungan kita ke Madinah saja adalah untuk SHALAT di Masjid Nabawi (sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas dan hadist tentang keutamaan shalat di Masjid Nabawi), BUKAN untuk berziarah ke makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena berziarah ke makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam TIDAK disyariatkan. Yang disyariatkan adalah umroh, haji, dan shalat, atau itikaf di 3 masjid tersebut. Maka, apalagi kita berziarah kepada makam orang-orang yang selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lebih tidak disyariatkan lagi dan tidak boleh berdasarkan hadist-hadist larangan di atas. Dan ini bisa tergolong memberat-beratkan diri, membebani diri dengan sesuatu yang tidak disyariatkan. Tidak boleh. Lihat safarnya Abu Hurairah di atas ke Bukit Thur. Seandainya beliau tahu larangan nabi tersebut sebelumnya, niscara Abu Hurairah tidak melakukan safar ke Bukit Thur tersebut.

Muhyiddiin Al-Barqawiy Al-Hanafiy rahimahullah berkata:

فإن جمهور العلماء قالوا: السفر إلى زيارة قبور الأنبياء والصالحين بدعة، لم يفعلها أحد من الصحابة والتابعين، ولا أمر بها رسول رب العالمين، ولا استحبها أحد من أئمة المسلمين. فمن اعتقد ذلك قربة وطاعة، فقد خالف الإجماع. ولو سافر إليها بذلك الاعتقاد، يحرم بإجماع المسلمين

“Sesungguhnya jumhur ulama berkata : ‘Safar dalam rangka berziarah ke kubur para Nabi dan orang-orang shaalih adalah bid’ah, tidak pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan shahabat dan taabi’iin; tidak diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; serta tidak pula dianggap mustahab oleh seorang pun dari imam kaum muslimin. Barangsiapa meyakini hal itu adalah amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, sungguh ia telah menyelisihi ijmaa’. Seandainya ia melakukan safar ke tempat tersebut tanpa adanya satu keyakinan, maka tetap diharamkan berdasarkan iijmaa’ kaum muslimin” [Ziyaaratul-Qubuur, hal. 18].

Adapun safar untuk berwisata, safar untuk menuntut ilmu, tidak termasuk dalam larangan ini, karena bukan untuk tabaruk/ziarah dan shalat. Definisi safar itu perjalanan yang lebih dari sehari semalam (berdasarkan sebuah hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), atau yang membutuhkan perbekalan tertentu, atau yang sesuai kebiasaan masyarakat bahwa perjalanan tersebut sudah masuk kategori safar.

Agama Islam dan Bahasa Indonesia Berkembang dari Pulau Penyengat

 

Gurindam Duabelas. Foto: Fadil Aziz / Alcibbum Photography

Gurindam Duabelas. Foto: Fadil Aziz / Alcibbum Photography

 

Kurang sah rasanya berbicara tentang Masjid Penyengat atau Masjid Sultan Riau tanpa berbicara mengenai pengaruh Pulau Penyengat terhadap negri kita.

 

Masjid Raya Sultan Riau, Penyengat

Masjid Raya Sultan Riau, Penyengat. Foto: Fadil Aziz / Alcibbum Photography

Dengan dukungan dana yang lumayan, Pulau Penyengat yang luasnya hanya 240 hektar menjadi pusat penyebaran dan pembelajaran agama Islam dan sastra melayu. Berbagai kitab dibawa dari Timur Tengah dan dikaji disini.

 

Tersebutlah Raja Ali Haji. Seorang ulama, cendekiawan dan pujangga keturunan Bugis-Melayu. Dia adalah penulis Tuhfat al-Nafis yang menceritakan sejarah dunia Melayu

dari Abad 17 hingga 19. Raja Ali Haji jualah yang menulis Gurindam Duabelas, sebuah puisi yang bernafaskan Islam. Kita semua rasanya mengenal gurindam ini di dalam

mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pada tahun 1837, Raja Ali Haji berupaya membuat pedoman pemakaian bahasa Melayu dengan kitab tata­bahasa yang ditulisnya dengan judul Bustan al Katibin, pada tahun 1857 Masehi. Raja Ali Haji jualah yang menulis kitab Pedoman Bahasa yang ditulis tahun 1859; buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia.

 

Raja Ali Haji, Pulau Penyengat.

Raja Ali Haji, Pulau Penyengat. Foto: Fadil Aziz / Alcibbum Photography

Bukunya berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara. Tak mengherankan jika ia ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia

sebagai pahlawan nasional di bidang Bahasa Indonesia pada 5 November 2004. Raja Ali Haji dimakamkan di Pulau Penyengat (walau ada yang mengatakan beliau lahir di Selangor, Malaysia). Yang jelas, dia tinggal di Pulau Penyengat. Jadi, kita bangsa Indonesia mungkin berhutang budi (secara istilah) kepada beliau karena jasanya di bidang

Bahasa Indonesia. Semoga Allah memberi ampunanNya dan merahmati beliau. Memberi beliau falahum ajrun ghoiru mamnuun, pahala yang tak putus-putus.

 

Islam dan Sastra Tak Terpisahkan

Islam dan sastra-bahasa memang tak terpisahkan. Kitab al-Qur’an adalah kitab sastra tertinggi. Allah menurunkan mukjizat sesuai zaman. Kaum Fir’aun sangat memandang tinggi ilmu sihir dan para penyihir. Maka Musa as diutus dengan tangan yang dapat bercahaya. Dan beliau mengalahkan para penyihir. Nabi Isa al Masih dengan izin dan karunia Allah dapat menyembuhkan orang-orang sakit, karena kedokteran adalah bidang yang baru berkembang saat itu. Maka nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi mukjizat terbesarnya, yaitu al-Qur’an. Sebuah karya sastra yang tak terkalahkan. Bangsa Arab adalah bangsa yang sangat mengagungkan sastra, sehingga para penyair menempati tempat yang khusus di masyarakat. Kita lihat, bagaimana sastra begitu berkembang pada umat beliau hingga sekarang. Mulai dari perbukuan, puisi, hingga film (terlepas dari boleh/tidaknya film).

ALCIBBUM_70044

Ahmad Bagiat menulis dalam bukunya, “Nabi-nabi Allah”, ketika kita membaca kisah-kisah para nabi dan rasul di dalam al-Qur’an, kita seakan dibawa melihat adegan-adegan yang agung itu secara langsung. Bagaimana ketika muncul kisah Musa as berdialog dengan sang penguasa Fir’aun misalnya. Dikisahkan dengan detil, dialog-dialog diantara mereka di dalam al-Qur’an. Tiba-tiba layar berganti dan kisah lain menghiasi. Lalu pada bagian lain kita diceritakan kisah bagaimana galaunya ummi Muusa, yaitu ibunda dari Rasul Allah yang mulia ini ketika Allah dorong hatinya untuk menghanyutkan bayinya ke Sungai Nil. Sungguh mengharukan. Namun di saat berikutnya muncul adegan bagaimana Musa as dan kaumnya terjepit di Laut Merah. Dan Musa memukulkan tongkatnya sehingga terbelahlah Laut Merah. Sebuah episode yang menegangkan. Atau kisah Yusuf as yang diceritakan secara berurut. Dari mulai ia dibuang oleh saudara-saudaranya sendiri. Lalu difitnah dan akhirnya masuk penjara. Bagaimana Allah memberinya kemampuan takwil mimpi sehingga akhirnya Yusuf as menjadi raja atau penguasa di Mesir. Dan ternyata saudara-saudaranya datang ke Mesir dalam keadaan membutuhkan makanan. Bagaimana mereka tidak menyadari bahwa orang yang berkuasa saat itu adalah Yusuf as yang mereka buang ketika kecil. Kemudian Yusuf as membuat rencana atas mereka dan akhirnya berjumpalah Nabi Ya’qub dengan anak kesayangannya, Yusuf as. Happy Ending.

 

Al-Qur’an merupakan karya sastra yang tak ada bandingnya. Maka tak heran, perkembangan agama Islam dan sastra melayu berjalang beriringan di Pulau Penyengat. Sebagian kosa kata Bahasa Indonesia adalah serapan dari Bahasa Arab. Sebuah bagian dari bukti keagungan rencana Allah.

 

Hukum Meninggikan Kuburan

ALCIBBUM_70086Sayang, banyak kuburan di Pulau Penyengat ditinggikan, bahkan dibuatkan bangunan.  Mungkin ini karena ketidaktahuan masyarakat masa sekarang, Allahua’lam. Namun kami ingin menyampaikan bahwa meninggikan kuburan, apalagi membuat bangunan di atasnya adalah terlarang. Karena memang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ «أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ»

”Maukah kamu saya beri tugas sebagaimana tugas yang pernah diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku? Jangan biarkan gambar makhluk bernyawa, sampai kamu merusaknya, dan jangan biarkan kuburan yang ditinggikan, sampai kamu meratakannya.” (HR. Ahmad 741, Muslim 969, Abu Daud 3218, Turmudzi 1049, Abdurrazaq dalam Mushanaf 6487, al-Hakim dalam al-Mustadrak 1366, dan beberapa ulama lainnya).

Dalam hadis yang lain, dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِصلى الله عليه وسلمأَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyemen kuburan, duduk diatasnya atau membangun sesuatu di atasnya.” (HR. Muslim 2289, Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushanaf 11764, dan yang lainnya).

أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ  أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ  مَسَاجِدَ إِنِّى أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Ingatlah bahwa orang sebelum kalian, mereka telah menjadikan kubur nabi  dan orang sholeh mereka sebagai masjid. Ingatlah, janganlah jadikan kubur  menjadi masjid. Sungguh aku benar-benar melarang dari yang demikian” (HR.  Muslim no. 532).

ALCIBBUM_70084Demikianlah, kami menghimbau kaum Muslimin di Pulau Penyengat, pihak yang berwenang agar memperhatikan larangan ini. Karena ini larangan yang cukup keras demi keselamatan kita dunia akhirat.

Beberapa bacaan bagus mengenai peninggian kuburan:

Mengenai Makam Nabi

Hukum Kuburan Mewah & Meninggikan Kuburan

Masjid Pulau Penyengat

Masjid Pulau Penyengat. Foto: Fadil Aziz / Alcibbum Photography

(Visited 495 times, 2 visits today)

Related posts: