Membantah Ahlul Batil:

“Sesungguhnya setiap kali seseorang mendatangkan hujjah untuk menguatkan kebatilan mereka, maka hujjah tersebut justru akan BERBALIK MEMBANTAH dirinya.”

(Ibnu Taimiyah).

 

Perkataan ini mengandung kebenaran dan karenanya patut diperhatikan dan digunakan oleh siapa saja dalam membantah kebatilan.

 

Kita berikan contoh, misalnya orang-orang Kristen yang mengatakan bahwa Nabi Isa as adalah tuhan. Perkataan ini dapat kita kembalikan kepada mereka: jika Isa as adalah tuhan, kenapa tuhan mati? Jika ia juru penyelamat, mengapa ia tak dapat menolong dirinya sendiri? Seketika itu juga, perkataan mereka runtuh. Jika mereka mengatakan Isa itu tuhan karena ia tidak memiliki ayah, maka kita katakan, kalau begitu Adam as lebih berhak lagi dijadikan tuhan, karena Adam as tidak memiliki ayah dan tidak memiliki ibu!

 

Contoh lain adalah perkataan sebagian saudara-saudara kita kaum Muslimin yang masih merayakan maulid nabi. Hujjah mereka adalah: sebagai bagian dari kecintaan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kita katakan, jika mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka:

Ali Imran: 31

Ali Imran: 31

 

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku…”

Q.S.: Ali Imran: 31

Maka,  kita diperintah untuk ittiba’ (patuh, mengikuti) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Meneladani beliau, menghidupkan sunnah-sunnahnya. Sebagaimana firman Allah, “Dan apa yang diberikan Rasul (shallallahu ‘alaihi wasallam) kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (QS. Al-Hasyr : 7). Perayaan maulid tidak pernah diperintahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka, mengapa kita mengerjakan sesuatu yang tidak ada asal-usulnya, namun tidak mengerjakan yang jelas sunnahnya? Sunnah-sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sangat banyak jumlahnya. Tak terhitung. Mulai kita bangun di pagi hari, hingga tidur di malam hari semua ada sunnahnya. Apakah sudah diamalkan? Mengapa menunggu setahun sekali baru dilakukan?

 

Disamping itu, perayaan di dalam Islam hanya ada 2, dan 3 setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat.

 

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ يَوْمَ الْجُمْعَة يَوْمُ عِيدٍ ، فَلَا تَجْعَلُوا يَوْم عِيدكُمْ يَوْم صِيَامكُمْ , إِلَّا أَنْ تَصُومُوا قَبْله أَوْ بَعْده

Sesungguhnya, hari Jumat adalah hari raya. Karena itu, janganlah kalian jadikan hari raya kalian ini sebagai hari untuk berpuasa, kecuali jika kalian berpuasa sebelum atau sesudah hari Jumat.” (H.r. Ahmad dan Hakim; dinilaisahih oleh Syu’aib Al-Arnauth)

Jadi itulah hari-hari raya di dalam Islam yang disyariatkan oleh Allah dan RasulNya. Maka dengan melakukan perayaan maulid, justru kita tidak mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, karena bertentangan dengan sabda-sabda beliau. Kita telah menambah sebuah hari raya dari yang telah beliau sampaikan. Apakah itu suatu bentuk kecintaan? Jika cinta, seharusnya kita ittiba’.

 

Ini sekedar contoh ilustrasi saja. Banyak sekali argumen-argumen yang keliru terbantahkan dengan argumen itu sendiri. Kisah Nabi Ibrahim as tentu kita semua tahu. Bagaimana beliau menggantungkan kampak yang digunakan untuk menghancurkan semua patung-patung kaumnya di leher sebuah patung yang terbesar yang tidak beliau hancurkan. Ketika (pemuka) kaumnya menuduh Ibrahim as sebagai pelaku penghancuran patung-patung tersebut, maka beliau dengan serta-merta menunjuk kepada patung yang terbesar itu: “Dialah yang menghancurkan semua patung-patung itu.” Seketika itu kaumnya terdiam seribu bahasa. Karena tidak mungkin patung terbesar itu yang menghancurkan. Sebuah patung hanya bisa diam mematung. Tidak bisa bergerak.

 

Demikianlah, hujjah ahlul batil akan selalu berbalik kepada mereka. Karenanya, bantahlah hujjah ahlul batil. Tentunya dengan cara yang baik dan penuh hikmah. Apalagi jika mereka saudara-saudara kita seiman.

 

Membantah ahlul batil

Hujjah ahlul batil akan berbalik membantah dirinya

 

Semoga Allah memberi taufikNya kepada kita. Shalawat dan salam kita curahkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

 

 

 

 

(Visited 534 times, 1 visits today)

Related posts: