“Bacalah dengan [ menyebut] nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajari [manusia] dengan perantaraan kalam (pena). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S: al-Alaq: 1-5)

Al-Qur’an tidak diturunkan dalam bentuk satu kitab sekaligus. Namun al-Qur’an diturunkan secara bertahap, secara berangsur-angsur. Kurun waktunya adalah 22 tahun lebih sedikit. Para ulama membagi ayat berdasar tempat turunnya menjadi Makiyyah (turun di Mekkah selama 12 tahun) dan Madaniyyah (turun di Madinah selama 10 tahun). Al Qur’an turun kadang 1 ayat, kadang beberapa ayat dan juga pernah satu surat sekaligus (surat al-Kautsar), disesuaikan dengan kejadian yang terjadi di masa itu, disesuaikan dengan kebutuhan, dan hikmah-hikmah lain yang hanya Allah yang tahu. Kadang juga satu atau beberapa ayat diturunkan dalam rangka membantah perkataan orang-orang kafir di masa itu yang argumennya masih tetap sama hingga sekarang, sehingga al-Qur’an telah membantahnya dari dulu hingga yang akan datang.

 

Sejarah Pengumpulan al-Qur’an

Pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, ketika wahyu / al-Qur’an masih turun, al-Qur’an dicatat oleh penulis wahyu, tersimpan di dada-dada para sahabat yang menghafalnya, juga ditulis di tulang-tulang dan kulit.

 

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, usaha untuk mengumpulkan al-Qur’an menjadi satu kitab pun dimulai. Kita akan ambil dari Shahih Bukhari sebuah riwayat yang menjelaskan awal kejadian pengumpulan al-Qur’an:

 

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ السَّبَّاقِ أَنَّ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ مَقْتَلَ أَهْلِ الْيَمَامَةِ فَإِذَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ عِنْدَهُ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّ عُمَرَ أَتَانِي فَقَالَ إِنَّ الْقَتْلَ قَدْ اسْتَحَرَّ يَوْمَ الْيَمَامَةِ بِقُرَّاءِ الْقُرْآنِ وَإِنِّي أَخْشَى أَنْ يَسْتَحِرَّ الْقَتْلُ بِالْقُرَّاءِ بِالْمَوَاطِنِ فَيَذْهَبَ كَثِيرٌ مِنْ الْقُرْآنِ وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَأْمُرَ بِجَمْعِ الْقُرْآنِ قُلْتُ لِعُمَرَ كَيْفَ تَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُمَرُ هَذَا وَاللَّهِ خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ صَدْرِي لِذَلِكَ وَرَأَيْتُ فِي ذَلِكَ الَّذِي رَأَى عُمَرُ قَالَ زَيْدٌ قَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ لَا نَتَّهِمُكَ وَقَدْ كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَتَبَّعْ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ فَوَاللَّهِ لَوْ كَلَّفُونِي نَقْلَ جَبَلٍ مِنْ الْجِبَالِ مَا كَانَ أَثْقَلَ عَلَيَّ مِمَّا أَمَرَنِي بِهِ مِنْ جَمْعِ الْقُرْآنِ قُلْتُ كَيْفَ تَفْعَلُونَ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ أَبُو بَكْرٍ يُرَاجِعُنِي حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ صَدْرِي لِلَّذِي شَرَحَ لَهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَتَتَبَّعْتُ الْقُرْآنَ أَجْمَعُهُ مِنْ الْعُسُبِ وَاللِّخَافِ وَصُدُورِ الرِّجَالِ حَتَّى وَجَدْتُ آخِرَ سُورَةِ التَّوْبَةِ مَعَ أَبِي خُزَيْمَةَ الْأَنْصَارِيِّ لَمْ أَجِدْهَا مَعَ أَحَدٍ غَيْرِهِ

{ لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ }

حَتَّى خَاتِمَةِ بَرَاءَةَ فَكَانَتْ الصُّحُفُ عِنْدَ أَبِي بَكْرٍ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ عِنْدَ عُمَرَ حَيَاتَهُ ثُمَّ عِنْدَ حَفْصَةَ بِنْتِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْه

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isa’il dari Ibrahim bin Sa’d Telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari Ubaid bin As Sabbaq bahwa Zaid bin Tsabit radliallahu ‘anhu, ia berkata; Abu Bakar mengirim para korban perang Yamamah kepadaku, dan ternyata Umar bin Al Khaththab ada di sisinya. Abu Bakar radliallahu ‘anhu berkata,

Sesungguhnya Umar mendatangiku dan berkata, ‘Mayoritas korban perang Yamamah adalah para penghafal Al Qur`an. Dengan gugurnya mayoritas penghafal Al Qur`an, maka aku khawatir sebagian besar Al Qur`an juga akan hilang. Maka aku berpendapat, sebaiknya Anda segera memerintahkan guna melakukan dokumentasi alquran.’ Maka aku pun bertanya kepada Umar, ‘Bagaimana kamu akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? ‘ Umar menjawab, ‘Perkara ini, demi Allah adalah ide yang baik.’ Umar selalu membujukku hingga Allah memberikan kelapangan dadaku, dan akhirnya aku sependapat dengan Umar.” Zaid berkata; Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya kamu adalah seorang pemuda yang cerdas, kami sama sekali tidak curiga sedikit pun padamu. Dan sungguh, kamulah yang telah menulis wahyu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena itu, telusurilah Al Qur`an dan kumpulkanlah.” Zaid berkata, “Demi Allah, sekiranya mereka memerintahkanku untuk memindahkan gunung, niscaya hal itu tidaklah lebih berat daripada apa yang mereka perintahkan padaku, yakni dokumentasi alquran.” Zaid bertanya, “Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab, “Demi Allah, itu adalah kebaikan.” Abu Bakar terus membujukku, hingga Allah pun memberikan kelapangan dadaku, sebagaimana Abu Bakar dan Umar radliallahu ‘anhuma. Maka aku pun mulai menelusuri Al Qur`an, mengumpulkannya dari tulang-tulang, kulit-kulit dan dari hafalan para Qari`. Dan akhirnya aku pun mendapatkan bagian akhir dari surat At Taubah bersama Abu Khuzaimah Al Anshari, yang aku tidak mendapatkannya pada seorang pun selainnya. Yakni ayat: ‘Sungguh, telah datang pada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, yang sangat berat olehnya kesulitan yang menimpa kalian..'” hingga akhir surat Al Bara`ah. Lembaran-lembaran Al Qur`an itu pun tetap tersimpan pada Abu Bakar hingga Allah mewafatkannya. Kemudian beralih. kepada Umar semasa hidupnya, lalu berpindah lagi ke tangan Hafshah binti Umar radliallahu ‘anhu

(HR Bukhari # 4603).

-Catatan: surat al-Bara’ah adalah nama lain dari surat at-Taubah.

Berarti bagian akhir dari surat at-Taubah adalah bagian terakhir dari al-Qur’an yang dikumpulkan. Hadist serupa juga terdapat dalam Shahih Bukhari di beberapa tempat. Seperti misalnya hadist bernomor 6654 di Kitab Hukum-hukum, Bab  “Sekertaris Hendaknya Terpercaya dan Cerdas” (karena usaha ini walau idenya digagas oleh Umar, lalu diperintahkan oleh Abu Bakar, namun yang melaksanakannya adalah Zaid, seorang pemuda cerdas yang telah menulis wahyu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Agak melenceng sedikit dari pembahasan utama, yaitu bahwa ada sebagian orang yang menjadikan usaha pengumpulan al-Qur’an ini sebagai bukti bolehnya perbuatan bid’ah (suatu perkara agama atau ibadah yang dilakukan tanpa landasan syari’at, tanpa ada contoh atau perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Maka persangkaan keliru ini kami jawab sebagai berikut:

  1. Pertama sekali, pengumpulan al-Qur’an ini bukan suatu bentuk ibadah, atau ritual, seperti shalat, puasa, haji, dll. Berbeda dengan ritual maulid nabi, ritual tahlilan, dan yang sejenisnya yang merupakan bid’ah. Sedangkan pengumpulan al-Qur’an adalah sebuah METODE agar al-Qur’an dapat diajarkan dan dipelajari dengan lebih mudah. Sama juga ketika al-Qur’an dibuat dalam bentuk digital, dalam bentuk kaset, CD, dlsb, itu semua hanya metode saja untuk menyebarkannya, mempermudah mempelajarinya, dst. Adapun al-Qur’annya itu sendiri tetap, TIDAK BERUBAH SAMA-SEKALI. Baik dari segi tulisan, maupun dari segi tata cara bacaannya. Adalah bid’ah jika misalnya cara membacanya dirubah (walau tidak dikumpulkan). Sama, adalah bid’ah misalnya jika haji tidak ke Baitullah, tapi ke tempat lain, atau ke Baitullah, tapi tata caranya dirubah.
  2. Al-Qur’an telah disebut oleh Allah di dalam al-Qur’an itu sendiri sebagai “KITAB”. Jadi membuatnya sebagai kitab bukanlah bid’ah karena Allah sendiri telah menyebutnya dengan kata “kitab”.
  3. Upaya pengumpulan al-Qur’an telah mulai dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Sebagaimana kita lihat pada hadist di atas bahwa Zaid adalah salah satu penulis wahyu semasa beliau hidup, ketika wahyu masih turun.
  4. Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar  ini adalah sunnah khulafaur rasyidin, yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan kita untuk MENGIKUTI mereka. “Aku wasiatkan pada kalian untuk bertakwa kepada Allah serta mendengarkan dan mentaati (pemerintah Islam), meskipun yang memerintah kalian seorang budak Habsyi. Dan sesungguhnya orang yang hidup sesudahku di antara kalian akan melihat banyak perselisihan. Wajib kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin Mahdiyyin (para pemimpin yang menggantikan Rasulullah, yang berada di atas jalan yang lurus, dan mendapatkan petunjuk). Berpegang teguhlah kalian padanya dan gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian. Serta jauhilah perkara-perkara yang baru. Karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.“ (HR Abu Dawud, shahih lighairihi). Imam Asy-Syathiby rahimahullah berkata: “Rasulullah menggandengkan -sebagaimana engkau lihat– sunnah Khulafaur Rasyidin dengan sunnah beliau, dan bahwa termasuk mengikuti sunnah beliau adalah dengan mengikuti sunnah mereka. Sedangkan segala perkara yang baru menyelisihi sunnah tersebut, tidak termasuk sunnah sama sekali…”
  5. Pengumpulan dan pembukuan al-Qur’an dilakukan oleh Khulafaur Rasyidin, sedangkan perayaan maulid misalnya, tidak. Jadi jelaslah mana yang bid’ah, mana yang bukan. Seyogyanya tidak dicampuradukkan.

Jadi pengumpulan al-Qur’an adalah disyari’atkan. Sedangkan sesuatu yang disyari’atkan tentunya bukan bid’ah. Bid’ah adalah suatu perkara dalam agama yang tidak disyari’atkan alias dibuat-buat, namun seperti disyari’atkan. Seperti misalnya rahbaniyyun dalam Kristen (tidak nikah bagi pendeta atau suster; padahal Allah tidak mensyari’atkan seperti itu), juga perayaan Natal (tidak ada di dalam Injil, termasuk tanggal 25 Desembernya), juga pengampunan dosa, dll. Dalam Islam ada maulid Nabi, tahlilan, perayaan tahun baru Islam, dll yang semuanya tidak disyari’atkan. Namun kini kita lihat ritual-ritual tersebut seolah-olah disyari’atkan, bahkan diwajibkan. Padahal tidak sama sekali. Itulah bid’ah.

Ibnu Katsir menulis di dalam kitab tafsirnya, “pengumpulan al-Qur’an ini merupakan usaha yang paling baik, besar dan agung yang pernah dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, sehingga Allah Ta’ala menempatkannya pada posisi tepat setelah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam…Dan inilah rahasia dibalik firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S: al-Hijr: 9)

Ibnu Katsir melanjutkan,

“Tugas ini merupakan amanah yang paling besar, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitipkan hal tersebut kepada mereka untuk menyampaikannya kepada orang-orang yang hidup setelahnya, sebagaimana difirmankan Allah ta’ala:

“Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu.” (Q.S: al-Maaidah: 67)

Jadi kita lihat baik secara dalil naqli maupun aqli, pengumpulan al-Qur’an adalah usaha yang sangat mulia dan tidak ada ulama yang menganggapnya sebagai bid’ah. Bahkan para ulama menganggapnya upaya yang sangat mulia. Seandainya belum jelas, kami sarankan untuk mempelajari lagi arti “bid’ah” secara ilmu syar’i, bukan secara bahasa (Arab) semata.

Demikianlah, sejarah pengumpulan al-Qur’an adalah upaya yang sangat mulia dari para sahabat dan kita merasakan manfaatnya sampai sekarang. Ini merupakan kenikmatan yang luarbiasa dari Allah kepada kita. Dan sebagai wujud penjagaan Allah terhadapnya. Marilah kita perbanyak membaca, menghafal dan mentadaburi al-Qur’an sebagai wujud rasa syukur kita atas karunia Allah yang sangat besar ini. Sebelumnya al-Qur’an dihafal di dada-dada manusia dan ditulis di batu dan sebagainya oleh para sahabat. in sya Allah kedepan akan kita nukil tahap selanjutnya: penulisan al-Qur’an, yaitu di zaman Khalifah Utsman bin Affan.

Bacaan terkait:

(Visited 687 times, 1 visits today)

Related posts: