3 Jenis Manusia – Menolak Menjadi Orang Awam

Manusia ada tiga (golongan): alim rabbani (ulama), penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan, dan orang awam yang mengikuti setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai dengan arah angin (kemanapun diarahkan), tidak menerangi diri dengan cahaya ilmu, dan tidak berpegangan dengan pegangan yang kuat “.

~ Ali bin Abi Thalib ~

Demikianlah tiga jenis manusia menurut Ali bin Abi Thalib, khalifah ke-4:

  1. Alim Rabbani.
  2. Penuntut Ilmu yang berada di atas jalan keselamatan.
  3. Orang Awam.

 

Tulisan ini akan memfokuskan kepada  jenis ketiga, lalu jenis kedua, karena sangat relevan dengan kondisi masyarakat kita pada hari ini. Adapun untuk mengetahui penjelasan atsar ini dari sisi keutamaan menuntut ilmu agama dapat dilihat pada tulisan Ustadz Abdullah Roy MA.

 

Atsar Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ini begitu penting. Begitu dalam dan luas. Bahkan sangat urgent untuk direnungi oleh kita di zaman yang penuh kejahilan masal ini. Dimana masyarakat semakin jahil dalam perkara agama, semakin jauh dari agama, dibarengi dengan bermunculannya orang-orang bodoh, atau pengkhianat namun dielu-elukan oleh manusia jenis ketiga ini: yaitu orang-orang awam. Lebih jauh lagi, negri ini bahkan selalu terpuruk dengan pemimpin-pemimpin yang kurang baik, kurang kompeten, kurang bersih, yang notabene dipilih dan diangkat oleh rakyatnya sendiri. Mengapa? Mungkin karena TERLALU BANYAK ORANG AWAM di negri ini, sedangkan mereka sangat mudah diarahkan, kemana angin bertiup, kesana mereka mengarah, seperti dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu di atas: “…tidak menerangi diri dengan cahaya ilmu, dan tidak berpegangan dengan pegangan yang kuat…”

 

Artikel ini pada bagian riwayat atsarnya serta penjelasannya kami ambil sepenuhnya dari tulisan Ustadz Abdullah Roy MA hafizhahullah karena begitu baik dan bagus. Siapa yang ingin membaca lengkapnya silahkan langsung merujuk tulisan aslinya yang terdiri dari 3 bagian. Setelah memaparkan penjelasan atsar ini, kemudian kami tambahkan dengan penekanan pada jenis manusia ketiga dan kedua.

 

3 Jenis Manusia

Atsar yang sebenarnya panjang ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim Al-Ashfahaani dalam Hilyatul Auliya’ (1/79), dan Al-Khathiib Al-Baghdaady dalam Taarikh Baghdaad (6/379).

 

Pada sanadnya, ada rawi yang dibicarakan oleh ulama tentang kelemahannya. Namun Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa kemasyhuran (dikenalnya) atsar ini diantara ulama sudah cukup (sebagai sandaran), sehingga tidak perlu melihat sanadnya. (Lihat I’laamul Muwaqqi’iin 2/195).

 

Inilah matannya:

Berkata Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad:

يا كميلُ بن زياد! القلوبُ أوعيةٌ؛ فخيرها أوعاها؛ احفظْ ما أقول لك: الناسُ ثلاثةٌ؛ فعالمٌ ربَّانيٌّ، ومتعلِّمٌ على سبيل نجاةٍ، وهَمَجٌ رِعَاعٌ أتباعُ كلِّ ناعقٍ يميلون مع كلِّ رِيح؛ لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجَئوا إلى ركنٍ وثيقٍ؛

العلمُ خيرٌ من المال: العلمُ يحرِسُك وأنت تحرِسُ المالَ، العلمُ يزكُوْ على العمل والمالُ تنقُصُه النفقةُ، ومحبةُ العالم دينٌ يُدان بها، العلمُ يُكسِب العالمَ الطاعةَ في حياته وجميلَ الأُحْدُوْثَةِ بعد موته، وصنيعةُ المال تزول بزواله، مات خُزَّانُ الأموال وهم أحياءٌ، والعلماءُ باقُون ما بقي الدهرُ، أعيانُهم مفقودةٌ، وأمثالهُم في القلوب موجودةٌ.

“Wahai Kumail bin Ziyaad! Hati adalah wadah, maka hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan); hafalkanlah apa yang akan aku katakan kepadamu !

Manusia ada tiga (golongan): alim rabbani (ulama), penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan, dan orang awam yang mengikuti setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai dengan arah angin (kemanapun diarahkan) , tidak menerangi diri dengan cahaya ilmu, dan tidak berpegangan dengan pegangan yang kuat “.

Penjelasan:

 

(1) “Alim Rabbani (ulama) “

Ini adalah golongan pertama dan tertinggi tingkatannya, yaitu golongan alim rabbani, mereka adalah para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan mengajarkannya kepada orang lain secara bertahap (dari tingkat yang paling rendah, kemudian ilmu yang lebih tinggi dari sebelumnya). Seorang ‘alim yang tidak mengamalkan; tidak dinamakan rabbani meskipun ia ajarkan ilmunya kepada orang lain. Dan seorang ‘alim yang mengamalkan ilmunya apabila tidak diajarkan kepada orang lain juga tidak dinamakan rabbani.

 

(2) “Penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan”

Golongan kedua adalah golongan para penuntut ilmu, yang mereka sedang menempuh jalan keselamatan. Penuntut ilmu agama yang memiliki niat yang benar dan mengamalkan dialah yang dimaksud oleh Amirul Mukminin radhiyallahu ‘anhu. Cinta kepada kebaikan, berupaya melakukan tafaqquh (mempelajari dengan mendalam) agama Allah yang dengannya dia bisa mendapat bashirah (ilmu yang di atas keyakinan yang kokoh; asy-Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah al-Jabiri).

 

(3) “Dan orang awam yang mengikuti setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai dengan arah angin (kemanapun diarahkan), tidak menerangi diri dengan cahaya ilmu, dan tidak berpegangan dengan pegangan yang kuat”

Ini adalah golongan ketiga, yaitu golongan orang-orang awam, mereka bukan orang alim, atau orang yang berusaha untuk menjadi orang alim (yaitu muta’allim). Keadaan mereka seperti yang beliau sifatkan, hamajun ri’aa’, orang-orang yang dungu, mengikuti setiap orang yang berteriak, artinya setiap ada yang datang mengajak kepada sesuatu maka dia mengikutinya, tidak mempertimbangkan baik buruknya dan benar salahnya (baik dalam perkara agama / akhirat, maupun dalam perkara dunia; ed.).

 

“mereka condong sesuai dengan arah angin” seperti pohon yang lemah, yang senantiasa mengikuti arah angin.

 

“tidak menerangi diri dengan cahaya ilmu dan tidak berpegangan dengan pegangan yang kuat” setelah menyebutkan keadaan golongan ketiga; beliau menyebutkan dua sebab kenapa mereka menjadi demikian?

 

Dua Sebab Mengapa Orang Awam Seperti Itu…

(Pertama) karena tidak berusaha menyinari hatinya dengan cahaya ilmu, ridha dengan kejahilan, akibatnya menjadi orang yang tidak memiliki pendirian yang kuat. Berbeda dengan orang yang memiliki ilmu, dimana ia berjalan bersamanya ilmu yang ia miliki, Allah berfirman:

 

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا ) الأنعام/122)

“Apakah orang yang dulunya mati (hatinya) kemudian Kami hidupkan, dan Kami berikan kepadanya cahaya (ilmu dan hidayah) yang dia berjalan dengan cahaya tersebut ditengah-tengah manusia, apakah sama dia dengan orang yang berada di dalam kegelapan-kegelapan (kesesatan) yang dia tidak bisa keluar darinya.” (QS. Al-An’aam:122)

(Kedua) karena tidak mau bertanya kepada orang yang berilmu, sehingga akhirnya tersesat.

 

Golongan yang ketiga ini meski jumlahnya yang paling banyak, mereka adalah golongan yang paling rendah derajatnya disisi Allah. Bahkan kalau diperhatikan,

 

 

tidaklah terjadi fitnah dan kekacauan di sebuah negeri kecuali berasal dari golongan yang ketiga ini.

(kutipan selesai, dengan sedikit perubahan untuk memudahkan membaca).

 

Menolak Menjadi Orang Awam - 3 jenis manusia

Menolak Menjadi Orang Awam – 3 jenis manusia menurut Ali bin Abi Thalib

 

Kami katakan:

setelah mengetahui adanya tiga jenis manusia ini, diharapkan kita semua berusaha minimal menjadi golongan atau jenis kedua, yaitu penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan. Minimal.

 

Sebab orang awam berpotensi mendapat kerugian dan kesusahan di dunia dan di akhirat. Mengapa?

 

Karena ilmu agama akan membimbing manusia kepada keselamatan. Selamat dunia dan akhirat. Terhindar dari kekacauan dan kerusakan.

 

Jadi, walau ia seorang profesor dan ahli dalam perkara dunia, namun jika ia hanya awam saja dalam agama, keadaan ini sangat berbahaya. Karena, sekali lagi, perkara agama itu sumber keselamatan. Sebaliknya, kerusakan-kerusakan yang terjadi di dalam kehidupan, baik di bidang sosial, ekonomi, maupun politik, terjadi karena kejahilan dalam masalah agama.

 

Sebagai contoh di bidang sosial, jika seseorang awam dalam masalah agama ia dapat dengan mudah menelantarkan orang tuanya yang sudah sepuh, atau meninggalkan bayinya yang masih merah hasil dari hubungan di luar nikah, atau sering mabuk-mabukan, atau sering berbuat onar di lingkungannya, sering menyetel musik keras-keras, atau memasang knalpot sepeda motor yang sangat mengganggu setiap orang. Di bidang ekonomi, merebaknya transaksi riba yang mengakibatkan kebangkrutan-kebangkrutan, termasuk kebangkrutan negri Indonesia karena banyaknya hutang (riba), jatuhnya perekonomian Amerika Serikat beberapa tahun lalu karena tunggakan mortgage (KPR), dsb. Di bidang politik dengan munculnya tokoh-tokoh yang tidak kompeten, berkhianat, culas, dan sebagainya. Bahkan sebagian kaum muslimin memilih orang-orang fasik memimpin negri ini. Atau ingin memilih orang kafir yang sudah jelas-jelas dilarang dalam agama. Orang kafir sebagai pemimpin akan membawa banyak sekali kemudharatan. Seperti misalnya melegalkan perjudian, minuman keras, riba, dan sebagainya. Karena orang kafir tidak tahu mana yang baik, mana yang buruk. Contohnya sangat banyak sekali. Bisa kita lihat kehidupan di negara-negara maju seperti Jepang yang tinggi bunuh dirinya, Inggris dan Amerika yang sangat tinggi konsumsi narkobanya, dan seterusnya.

 

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS Al Ruum: 7)

 

Sedangkan agama Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari kelahirannya, hingga kematiannya ke liang kubur, semua ada tuntunannya. Karenanya agama Islam adalah agama tuntunan. Harus dipelajari agar manusia tidak menjadi awam atau jahil.

 

Seorang penuntut ilmu bukan berarti harus berupa santri, atau menjadi mahasiswa. Tidak. Bukan melulu kita harus kembali sekolah (walau bisa jadi memang diperlukan, seperti misalnya belajar bahasa Arab), namun maksudnya, jadilah kita sebagai “MANUSIA PEMBELAJAR”. Ini istilah dari orang barat yang kita pinjam. Artinya, kita menjadi manusia yang selalu belajar setiap hari. Mulai dari hal-hal kecil. Untuk diri kita sendiri, kemudian kita ajarkan kepada keluarga kita, anak-anak dan istri-istri, dan seterusnya.

 

Beberapa hal yang dapat menjadi contoh bagaimana seseorang belajar setiap hari:

  • Membaca al-Qur’an dan terjemahannya setiap hari. Al Qur’an adalah sumber ilmu. Sumber ilmu yang sangat luas dan dahsyat yang berasal dari Rabbul ‘aalamiin, Pencipta Alam Raya. Lebih bagus lagi membaca tafsirnya juga (kitab-kitab tafsir sekarang sudah banyak diterjemahkan dan mudah dibeli).
  • Mengikuti kajian-kajian ilmiah yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih. Disana kita akan memperoleh banyak sekali ilmu dan dapat bertanya kepada para asatidz.
  • Mendengarkan radio-radio kajian. Semisal Radio Rodja 756 AM, atau Muslim 837 AM.
  • Mengikuti kajian di tv-tv agama, seperti Rodja TV, Wesal TV, Insan TV, Niaga TV, Bunayya TV, Surau TV, dan lain-lain.
  • Membaca buku-buku agama yang baik.
  • Bergabung dengan grup-grup ilmu, baik di Whatsapp, atau pun Facebook, dll.
  • Dan masih banyak cara-cara lain yang begitu banyak. Seandainya menuntut ilmu dengan lebih serius lagi, mengikuti kursus bahasa Arab misalnya, itu lebih bagus lagi.

 

Intinya kita selalu mengupdate ilmu kita. Tak terbilang banyaknya dalil yang menunjukkan keutamaan menuntut ilmu. Bahwa menuntut ilmu itu mulai dari buaian hingga liang lahad, bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim, yang jika kami paparkan, tulisan ini akan menjadi sangat panjang sekali.

 

Marilah kita minimal menjadi golongan yang kedua, sang manusia pembelajar. Yang mengisi hari-harinya dengan ilmu. Sesungguhnya sumber semua kerusakan di dunia ini adalah kejahilan dalam perkara agama (contoh kasus: memilih pemimpin bukan berdasarkan agama, akidah dan ahlaknya).

(Visited 1,042 times, 2 visits today)

Related posts: