Setiap manusia pasti memiliki masalah. Karena dunia ini memang tempat ujian. Surgalah negri yang aman dan sentosa. Tidak ada problematika disana; yang ada hanya kenikmatan dan kenikmatan saja. Namun tak jarang manusia ketika berhadapan dengan masalah menjadi bingung. Apalagi jika masalahnya cukup besar dan pelik. Padahal, jarak antara sebuah masalah dengan solusinya begitu dekat: sama dengan jarak antara dahi dengan tempat sujud!

 

Apa maksudnya?

 

I. SHALAT

Maksudnya adalah: shalatlah!

 

Perhatikanlah dalil-dalil berikut.

 

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

(Q.S: al-Baqarah: 153)

 

Maksudnya, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat (dan untuk mendirikan shalat dibutuhkan kesabaran). Sebagaimana firman Allah:

 

Minta pertolongan dengan sabar dan shalat

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”

(Q.S: al-Baqarah: 45)

 

Elemen pertama disini adalah sabar. Yaitu sabar menghadapi cobaan, ujian, atau hukuman dari Allah (banyak musibah berasal dari perbuatan dosa dan maksiat anak Adam).

 

Apa saja musibah yang menimpa karena perbuatan maksiat

Asy-Syuura: 30

 “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”

(Q.S: Asy-Syuura: 30)

 

Alhamdulillah, Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kita. Jika tidak, mungkin kita sudah hancur oleh banyaknya musibah yang datang bertubi-tubi karena maksiat kita yang begitu banyak. Namun demikian, tetap kita wajib istighfar dan bertaubat.

 

Kembali kepada pokok bahasan, makna “shalat” di atas ada dua:

 

  1. Shalat secara kesuluruhan, baik yang wajib, maupun yang sunnah. Sebagaimana dikatakan oleh Muqatil bin Hayyan misalnya.
  2. Shalat 2 rakaat (diantaranya yang kita kenal dengan shalat hajat).

 

Kedua pendapat ini benar adanya, sebagaimana akan dijelaskan nanti. Sekarang kita fokus kepada point 2. Yaitu shalat 2 rakaat ketika berhadapan dengan sebuah masalah.

 

Ya, shalatlah dua rakaat ketika menghadapi sebuah masalah.

 

Hudzaifah bin al-Yaman berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ditimpa suatu masalah, maka segera mengerjakan SHALAT.”

(HR. Ahmad)

Bagaimana pengamalan ayat-ayat dan hadist di atas oleh sahabat? Kita lihat pada atsar berikut:

 

Ketika Ibnu Abbas melakukan perjalanan, sampailah berita tentang kematian saudaranya Qatsum. Ia langsung menghentikan kendaraanya dan segera mengerjakan shalat dua raka’at dengan melamakan duduk (tasyahud akhir). Kemudian ia bangkit dan menuju kendaraannya sambil membaca, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’“. (Riwayat Ibnu Jarir).

Banyak riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat 2 rakaat ketika menghadapi masalah. Ketika akan terjadi badai di Madinah, dalam peperangan, dan sebagainya. Demikian pula yang dilakukan oleh para sahabat. Namun sayangnya, hal ini telah banyak dilupakan oleh kita di zaman sekarang. Bahkan ketika mendapat masalah, mengadukannya di Facebook, dan lain-lain. Allahu musta’an.

 

Catatan: waktu tasyahud akhir sebelum salam adalah salah satu waktu mustajab, sebagaimana disebutkan di dalam hadist tentang mustajabnya “dhuburish shalah”, yaitu akhir shalat (sebelum salam).

 

II. SUJUD

 

Demikian dekatnya jarak antara masalah dengan solusinya, sehingga jaraknya sama dengan jarak antara dahi dan tempat sujud. Makna yang kedua adalah: MEMPERBANYAK DOA DI DALAM SUJUD. Atau berdoa di dalam sujud. Bukankah kita semua tahu, bahwa waktu sujud adalah waktu yang maqbul, diijabah Allah? In sya Allah. Perhatikan dalil berikut dari as-Sunnah:

 

“Sujud adalah keadaan hamba yang paling dekat dengan Allah, maka perbanyaklah berdoa saat sujud.”

[HR. Nasai No.1125]

Jangan sia-siakan waktu sujud! Apakah di dalam shalat wajib, shalat hajat 2 rakaat, atau shalat apa pun, selama disana ada sujud, maka berdoalah. Dan inilah makna shalat yang pertama di awal tulisan kita ini. Yaitu mencakup setiap shalat, baik wajib maupun sunnah. Karena sujud yang disana terdapat kesempatan seorang hamba berdoa kepada Rabnya adalah sujud di dalam shalat. Shalat apa pun yang ada sujudnya (shalat jenazah tidak ada sujud).

 

Jadi mulai sekarang, jangan sia-siakan waktu sujud! Anda yang menjadi imam, berikan waktu yang cukup bagi makmum (dan Anda sendiri) untuk berdoa di dalam sujud. Boleh jadi Anda akan memperoleh pahala yang sangat banyak karena banyak doa para makmum yang dikabulkan Allah SWT dengan sebab Anda memberi kesempatan mereka berdoa kepada Allah di waktu sujud.

 

Sujud yang Mana?

Hal yang perlu diperhatikan adalah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merincikan sujud pada rakaat ke-berapa kita berdoa. Sabda beliau “sujud” bersifat umum. Karena bersifat umum, berdoa di dalam sujud dapat dilakukan pada sujud manapun, pada rakaat berapapun, pada shalat apapun. Demikianlah kaidah ilmu fikih. Sesuatu yang umum tidak dapat ditarik kepada yang khusus. Jadi berdoa di dalam sujud, bukan hanya pada sujud terakhir saja.

 

Mulai sekarang, jika Anda mendapati sebuah masalah, berdiri, dan lakukanlah shalat. Dan perbanyaklah berdoa di dalam sujud Anda!

 

Demikian mudahnya. Demikian dekatnya jarak antara masalah dengan solusi. Selamat mengamalkan.

(Fadil Aziz)

 

Catatan:

 

Hanya kepada Allah mengadu

Yusuf 86

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…”

hanya orang sabar yang pahalanya dicukupkan tanpa batas

az-Zumar: 10

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. “

Antara Masalah dengan Solusi

 

(Visited 1,716 times, 4 visits today)

Related posts: