Merayakan ulang tahun

Hukum merayakan ulang tahun

 

Maaf, mungkin banyak diantara kita yang masih merayakan perayaan ulang tahun. Padahal umur bukan untuk dirayakan. Justru kita akan dimintai pertanggungjawaban atas umur kita, digunakan untuk apa. Percuma umur panjang kalau di atas kemaksiatan misalnya. Karenanya, panjang-pendeknya umur bukan patokan.

Karenanya tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam utk merayakan hari ulang tahun (apa pun nama dan bentuknya). Tidak juga para sahabat, para ulama kita seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Nawawi, dsb, yang merayakan hari ulang tahun. Dan rata-rata usia mereka pendek atau standar saja. Namun lihatlah, keberkahan usia mereka. Hingga hari ini ilmu mereka tetap kita ambil. Seluruh kaum muslimin di seantero dunia mengambil manfaat dari ilmu para ulama kita ini. Artinya pahala mengalir & mengalir terus kepada mereka walau mereka sudah wafat.

 

Contohlah mereka, walaupun usia mereka tidak panjang, tapi berkah. Seolah-olah masih hidup!

 

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya

HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “as-Shahiihah” (no. 946) karena banyak jalurnya yang saling menguatkan

(Visited 1,340 times, 1 visits today)

Related posts: