Musuh Para Nabi

Setelah wahyu pertama turun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan apa yang beliau alami kepada Waraqah bin Naufal dan ia berkata:

 

“Andai saja aku masih hidup saat engkau diusir oleh kaummu.”

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apakah mereka akan mengusirku?”

 

Waraqah bin Naufal menjawab: “Ya…..

 

Tidak ada seorang pun yang datang dengan membawa apa yang engkau bawa melainkan akan disakiti”

 

“Dan jika aku masih hidup pada masamu, niscaya aku akan mendukungmu dengan pertolongan yang sangat besar.” Dan tidak lama kemudian, Waraqah (sepupu Khadijah) meninggal dunia dan wahyu terhenti…” (Tafsir Ibnu Katsir & Shahih Bukhari).

 

Allah berfirman,

 

“Bagi tiap-tiap nabi Kami jadikan musuh dari kalangan orang-orang berdosa”

(Q.S.: al-Furqaan: 31).

Ini adalah prinsip yang harus dipegang.

 

“Siapa saja yang mengikuti para nabi, akan mendapatkan seperti yang didapat

oleh para nabi.”

(Syaikh al-Utsaimin, Kasyfu Syubuhat).

Artinya, mendapat pahala yang besar, namun juga tantangan yang berat pula. Disakiti, dicerca, dihina, diejek, bahkan diusir atau tidak diterima di kampung halamannya sendiri. Sesuai dengan kadar dakwahnya dan ujian yang Allah ingin berikan. Itulah sunnatullah.

 

Allahua’lam.

 

(Fadil Aziz)

 

———–

Tulisan ini banyak mengambil faedah dari Tafsir Ibnu Katsir dan Kitab Kasyfu Syubuhat karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

 

Musuh para nabi

(Visited 596 times, 1 visits today)

Related posts: