Makna As-Sunnah

 

as-Sunnah adalah nama lain dari al-hadits.

 

Pengertian as-Sunnah BERDASAR SYARI’AT:

 

“Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi shalallahu’alaihi wassalam dalam bentuk:

  • QAUL (ucapan),
  • FI’IL (perbuatan),
  • TAQRIR (persetujuan),
  • AHLAK, SIFAT TUBUH, yang berfungsi sebagai TASYRI/pensyariatan bagi umat Islam.”[1]

~~~~~

QAULI (ucapan)

 

Sunnah yang berasal dari ucapan nabi. Contoh sunnah qauli (ucapan) yang memiliki kandungan penetapan syariat misalnya ada pada Puasa  Asyura, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

“Seandainya aku masih hidup tahun depan, niscaya aku berpuasa pada hari kesembilan.” (Musnad Ahmad 3044: dari Ibnu Abbas)

 

Ternyata beliau tidak sempat mengerjakannya karena telah dipanggil Allah SWT (wafat). Namun ia tetap menjadi sunnah bagi umat beliau walau beliau belum sempat mengerjakannya karena beliau mengucapkannya.

 

 FI’IL (perbuatan),

 

Contoh sunnah fi’il (perbuatan), dari ‘Aisyah berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci dan selainnya.”

Shahih Bukhari 163

 

Hudzaifah berkata,

 

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bangun di malam hari, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak.”

Shahih Bukhari 238

 

Ini adalah contoh-contoh sunnah perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan masih sangat banyak lagi.

 

TAQRIR (persetujuan),

 

Contoh sunnah taqrir:

 

“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang laki-laki yang mengerjakan shalat dua raka’at setelah shalat shubuh, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat shubuh itu hanya dua raka’at.” laki-laki itu menjawab; “Sesungguhnya aku belum mengerjakan shalat dua raka’at (sunnah fajar), karena itu aku mengerjakannya sekarang ini.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam.”

Sunan Abu Daud 1076: (hadits ini dikatakan mursal, Syaikh al-Albani berkata: shahih).

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyetujui perbuatan sahabat yang mengucapkan: “hamdan katsiiron thoyyiban mubaarokan fiih” setelah robbana lakal hamdu pada I’tidal. Ini semua adalah contoh PERSETUJUAN beliau. Artinya ini adalah boleh dan merupakan sunnah yang boleh diamalkan.

 

Makna Sunnah Berdasar Ilmu Fikih:

Artinya tidak wajib. Hukumnya sunnah. Jika dikerjakan dapat pahala, jika tidak dikerjakan tidak apa-apa.

———————

 Anda juga mungkin menemukan kata-kata “sunnah” dalam hadits ataupun al-Qur’an. Ini terklasifikasi ke dalam makna sunnah secara umum / secara bahasa.

 

Makna as-Sunnah secara bahasa / etimologi:

  • as-Sunnah secara bahasa berarti “memberi contoh yang terpuji maupun tercela.”

 

Sebagaimana yang terdapat dalam hadits nabi shalallahu’alaihi wassalam yang terkenal:

 

Sunan Darimi 511:

 

“Barangsiapa memberi contoh kebaikan (man sanna) dan contoh itu diamalkan (diikuti), ia mendapat pahala orang yang mencontohnya tanpa dikurangi sedikit pun pahala orang yang mencontoh. Sebaliknya barangsiapa memberi contoh keburukan dan contoh itu diamalkan (diikuti), ia mendapat dosa sebanyak dosa orang yang mencontohnya, tanpa didikurangi sedikit pun dari dosa-dosa orang yang mencontoh.” (HR ad-Darimi # 511, Bab Siapa Merintis Sunnah Kebaikan atau Keburukan, hasan menurut Syaikh al-Albani, juga diriwayatkan Ibnu Majah # 203, dll).

 

  • as-Sunnah secara bahasa juga berarti: Sunnatullah: hukum Allah.
al-Ahzab: 62

al-Ahzab: 62

“Sebagai sunnah Allah (sunatullah) yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. “ (Q.S al-Ahzab: 62)

Demikianlah beberapa pengertian as-Sunnah, yaitu secara SYARI’AT, secara ILMU FIKIH dan secara ETIMOLOGI. Adapun yang paling banyak dipakai, termasuk di web ini adalah pengertian as-Sunnah secara SYARI’AT. Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah dua sumber pensyariatan agama Islam yang utama, kemudian baru ‘ijma ulama. Dan ulama beristinbath (dan berijtihad) tidaklah melainkan mengambil dari al-Qur’an dan as-Sunnah pula.

 

›


[1] “Kedudukan as-Sunnah dalam Syariat Islam” | Yazid bin Abdul Qadir Jawas | Pustaka at-Takwa, 2009.