Pernahkah Anda memperhatikan orang Islam memiliki pemahaman yang berbeda-beda? Terutama dalam masalah akidah. Dalam masalah akidah, umat Islam seharusnya satu. Satu akidah (untuk fikih perbedaan dibolehkan asalkan mengikuti dalil yang shahih dan tidak mansukh/dihapus). Misalnya masalah musik. Atau jenggot. Haditsnya sudah jelas. Yg pertama dilarang, yg kedua diperintahkan. Tapi mengapa masih ada yang mendengarkan musik dan banyak yang tidak memanjangkan jenggot? Atau bahkan ada yang memanjangkan jenggot tapi masih mendengarkan musik yang jelas haram.

 

Bagaimanakah penjelasannya?

 

Semua dalil, al-Qur’an, as-Sunnah, maupun ijma ulama perlu pemahaman yang benar. Lalu pemahaman siapakah yang kita gunakan? Si A? Si B? Si C? Semua mengaku di atas al-Qur’an & as-Sunnah. Tapi dengan pemahaman siapa? Pemahamannya sendiri? Akalnya sendiri? Atau malah hawa nafsunya atau kepentingan kelompoknya?

 

Seharusnya dan sudah seharusnya, WAJIB bagi kita menggunakan pemahaman SALAFUSH- SHALIH. Siapakah mereka? Mengapa mereka? Silahkan membaca artikel-artikel di halaman ini.

 

Semoga Allah memberi kita semua taufik dan hidayah. Aamiin.